Surat Untuk Anjani

Hai Anjani,

Untukmu gadis berkulit jauh lebih putih dari pada kulitku, dan gadis yang tak menyukai tim sepak bola kebanggaanku, tapi untungnya kita masih satu suara jika bertemu dalam piala dunia, si baju orange.
Ini surat pertama yang aku tulis untukmu, yah walaupun sudah pernah kau ku kirimkan sebuah sepeda melalui kertas berlipat dua itu, tapi ini adalah kali pertama aku menulis pesan sepanjang dan sebanyak ini. Aku tak tahu akan kah ini menjadi surat terakhirku pula atau tidak, rasanya iya, entahlah. Tapi berkatmu aku akhirnya menginjakan ke kantor bernuansa orange itu, tempat orang menitipkan cerita, benci dan  rindu pada seonggok kertas tak bersuara.

Anjani yang malang, 
Langsung saja aku pada pokok tujuanku menulis ini. Aku sebenarnya bisa saja menelfon mu, memencet nomormu pada layar ponselku dan langsung berbicara padamu seperti biasanya. Tapi rasa enggan masih saja mencuak dipikiran. Aku malas sekali jika harus mendengar suaramu yang tinggi dan terkadang memekakkan telinga. Terkadang kau pun tak henti-hentinya berkicau bak burung kelaparan. Mungkin dulu memang aku sangat menyukainnya, tapi kini aku rasa aku tak membutuhkannya lagi. Perhatikan, aku menulisnya dengan kata "mungkin", jadi sebenarnya aku juga tak tahu yang sebenarnya. 

Anjani, kau memang sungguh baik. Mungkin gadis yang terbaik yang aku temui. Wajahmu juga tak buruk-buruk amat, kau pun pintar dan pandai berbicara. Sering kali leluconmu membuat percakapan kita terasa hidup. Tapi Anjani, itu saja tak cukup, atau mungkin berlebih ? entah lah.  Yang pasti aku ingin sekali mengatakan maaf padamu. Entah ini patut atau tidak, tapi sebaiknya aku jelaskan  saja, biar nanti bapak pengantar surat itu yang mengantarnya. 

Ingatkah senja yang kita temui saat itu Anjani ? Yah senja yang kita pandangi bersama. Aku di bukit berbatu dipinggir pantai itu, dan kau dibukit yang lainnya. Iya aku tahu, kita memang tidak di tempat yang sama, tapi kala itu akhirnya kita bisa memandang langit yang sama, senja yang sama, awan yang sama, bahkan mungkin angin yang lewat di depanku juga angin yang datang mengibas rambutmu. Rasanya senang bukan kepalang, tak ku sangka kita bisa memandangi senjamu dan kamu melihat matahariku, dengan warna kemerah-merahan yang identik. Tak seperti biasanya kita menikmati mataharimu-bulanku, bintangku-suryamu. 

Apakah kau juga ingat malam bulan purnama itu ? Yah! kau yang duduk tepat dibelakangku. Kurasa kau melihatnya. Karna diam-diam aku mengintip dari kaca sepion. Kau menengadahkan kepaamu ke atas, rambutmu yang mencuat dari sela-sela helm, terbang diterpa angin yang mungkin sempat berjumpa dengan purnama. Itu hal terbaik yang aku temukan tahun ini. 

Anjani yang tegar, 
Belum sudah aku menguraikan kata maafku, tapi memang aku tak sanggup mengatakannya sekarang. Jadi biarkan aku mengatakan terimakasih padamu terlebih dauhulu. Kau ingat Anjani, saat tumpukan pekerjaan dan tugas itu mencekik leherku? Yah itu rasanya aku akan mati jika kau tak cepat-cepat datang. Manalah aku paham bagaimana merangkai kata ilmiah, jika pernah membacanya pun tidak. Aku tahu kau membantuku sebaik mungkin, aku juga tahu jika kau bahkan belum terpejam saat tanggal deadline itu datang. Yah, yah, aku yang malah sempat tertidur dan kau yang meneruskannya. Tapi sungguh Anjani, mataku tak kuat lagi, bukan karna aku enggan. Dan lagi-lagi kau menjadi penolongku. 

Anjani yang baik, 
Terima kasih karna hampir disetip pagi kau membangunkanku. Walau sebenanrnya aku masih ingin melanjutkan berselancar di dalam mimpi. Tapi suara telfonku yang nyaring mmebuat kupingku gatal. Ditambah lagi kau yang suka memekik agar aku cepat tersadar dari kantuk. Yah itu menyebalkan, tapi aku bersyukur mengenalmu. Tapi Anjani, sadar kah kau, jika kantukku itu juga karna mu. Yah, bagaimana tidak, aku baru bisa tidur setidaknya 1 jam setelah tengah malam, bahkan lewat sepertiga malam. Kalau saja aku sudah tidur sebelumnya, aku pasti bisa sekalian ibadah malam. Seringkali aku terkantuk-kantuk menunggumu tiba di rumah. 

Ah alangkah panjangnya surat ini jika harus aku tuliskan kata terimakasih untuk setiap waktumu. Maka aku persingkat saja, karna tanganku sudah mulai pegal-pegal. 
Tapi yang pasti, termakasih yang sebesar-besarnya karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan dia, dan kau memberikan waktu yang pas untuk kami saling mengenal. 

Anjani, 
Sekarang kau tak perlu lagi menahan kantuk hanya untuk membangunkaku di pagi hari, kau tak perlu lagi berusah payah menjadi guruku, dan sudah aku putuskan kau tak perlu lagi memasang kupingmu lebar-lebar untuk mendengar ceritaku. sebenarnya aku juga sudah lelah padamu. Siapa yang tak lelah jika hidupmu yang nyata terasa seperti hanya khayalan. Aku seperti hidup di dunia maya. Memang mengasyikan, suatu pengalaman yang menarik bisa berinteraksi bersama dengan orang yang nun jauh di sana. Hal ini jika tak pernah aku bayangkan, bahkan tak pernah aku tahu jika bisa berlangsung tidak hanya dalam hitungan minggu. 

Ah sudahlah Anjani, yang pasti sekarang aku ingin bebas. Yah, kau memang tak pernah mengurungku, tapi aku tak menemukan kata lain yang lebih elok, jadi kupinjam saja kata bebas itu. Pokoknya kini aku sudah jauh lebih bahagia. Jadi mohon jangan mengusik apa yang sedang aku susun ini. Kau mengerti kan kata bahagia ? Aku kini jauh lebih bahagia, Anjani. Manusia mana yang tak bahagia jika waktu tidurnya kembali normal. Kini aku bisa tidur setidaknya 8 jam perhari. Kini sebelum tengah malam aku sudah bisa tertidur pulas ditemani suaranya orang disebrang sana yang sama-sama tertidur. Elok bukan ? 

Kini aku pun tak lagi pergi sendiri. Tempat duduk disamping pengemudi kini sudah terisi sosok nyata nan cantik. Tak seperti dulu, kursi sebelahku kosong, yang ada hanya wajahmu yang terkurung dalam layar ponsel. Tak ada tangan yang membantuku merogoh uang receh dari dashboard. Walaupun itu menyenangkan, tapi kini jauh lebih menyenangkan. Aku juga sudah punya penasihat sendiri, yang bisa langsung memutuskan warna atau barang mana yang harus aku ambil saat membeli sesuatu. Aku tak perlu lagi susah-susah mengambil gambar dan mengirimkannya padamu, lalu harus menunggu kau membalas, lalu kita berdiskusi panjang... ah lama sekali prosesnya. Kini semua jauh lebih cepat Anjani. Oh ya satu lagi, perjalana panjang ke kampusku pun kini bukan masalah berat dan tak lagi membosankan. Sudah ada manusia nyata yang duduk disampingku, bercerita, bercanda, lalu tertidur di bahu. Perjalanan yang panas terasa jauh lebih sejuk. Semuanya tak lagi membuatku pusing karna perjalanan yang panjang. Ditambah bermain ponsel di dalam bus serasa bermain roller coaster, mual.  Oh astaga, aku hampir lupa. Tugasku pun kini jauh lebih ringan, bukan karna dia lebih pintar darimu, tapi karna dia duduk tepat di kursi sebelahku. 

Anjani, tanganku sudah benar-benar mati rasa, tak sanggup lagi aku menulis. Jadi izinkan aku mengakhiri ini dengan kata terima kasih, karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan hidupku yang lebih baik. Ini semua juga berkatmu. Dan maaf jika aku tak lagi bisa menemani hari-hari mu, karna jujur aku sedang fokus pada hidupku yang bahagia ini, aku ingin benar-benar menikmatinya. Jadi maafkan aku jika ini terasa tak adil di dengar. Pesanku, jangan kau banyak terbuai masa lalu, kenangan yang sudah lewat atau kata-kataku dulu. Kau tahukan aku seorang lelaki, dan harusnya kau sudah paham dengan baik, bagaimana aku. Itu hanya lelucon belaka, hanya kalimat-kalimat yang menghibur agar aku tertawa dan kau bahagia. Jadi sudah, tak usah kau lihat-lihat lagi. 

Sekian saja surat dariku. 
Kau memang indah, Anjani. Tapi yang murni adanya akan selalu aku perjuangkan. 

Salam cinta dan kasih.
Teman hari-harimu, 
Teman baikmu,

-Tri Rahmadi- 





Because you are not enough

Pagi itu rasanya masih seperti mimpi. Semunya berubah dratis, jauh berbalik seperti pagi ku yang biasa. Senin pagiku pada umumnya. Rasanya aku tak sanggup memulai hari ini, apalagi memulai minggu ini. Dada ku yang masih terasa amat sesak, dan tubuh ini yang belum sepenuhnya pulih, membuat selimut merahku serasa enggan terangkat. 

Adik kelas SMA ku yang kebetulan sedang menginap disini sudah rapi dengan barang dan perlengkapnnya. Yah, hari ini hari terakhir dia di Paris, tinggal menghitung hari ia akan terbang ke Indonesia, meninggalkan negeri napoleon untuk melanjutkan tugas kuliahnya. Adik kelas SMA ku yang pertama yang akhirnya tahu bahwa kakak kelasnya ini, yang mungkin dianggap kuat dan tegar, ternyata bisa tumbang juga. Malu rasanya terlihat jatuh. Dan Malu karna sejak ia disini, aku tak sempat menemaninya berpamitan pada menara cantik yg di sebut Eiffel itu. Hari pertama dia akan pergi menikmati Paris, justru menjadi hari permana aku kejatuhan bom atom. Dan ia harus rela menikmati paris tanpa aku. Maaf kan adik kecilku. 

Tapi pagi itu, rasanya terlalu jahat jika aku membiarkan ia pergi ke stasiun bus sendirian dengan barang yang beranak pinak. Jadi kuputuskan untuk keluar rumah ! yah setidaknya walau tak lama, yang penting ak bisa menghirup udara segara. Setidaknya aku harus sadar, bahwa apapun yang terjadi, metro akan tetap saja padat, jalanan akan tetap saja macet. Lalu, kenapa aku harus terus bersembunyi di bawah selimut itu ? 

Jam masih menunjukan pukul 1 siang ketika aku tiba di rumah lagi, perut yang sejak kemarin tak terisi membuat aku harus bergerak ke dapur mencari apa pun yang bisa aku sempalkan di perut agar para cacing tak semakin ribut. 2 potong pizza hut sisa kemarin siang meluncur dengan cepat. Dan kebetulan sekali, teman lama datang menyapa. 

Teman baik yang lama tak ku sapa, lekaki dengan dua A dan satu S di akhir. Aku teringat kejadian beberapa tahun lalu ketika untuk pertama kalinya aku patah hati. Teman baik itulah yang membantu menyadarkan aku dari terpuruknya rasa terbuang. Logika-logika dari sisi lelaki memang sangat amat berguna untuk menyadarkan kita dari prasaan menye-menye. 

Dan entah kenapa, rasanya aku ingin sekali bercerita lagi dengannya. Ku putuskan untuk menanyakan kabarnya, dan apakah dia sedang sibuk. Binggo ! ternyata dia bersedia mendengarkan ceritaku yang panjang itu.. 

"SELESAI hahahha" ujarku mengakhiri cerita 

"Mau aku jadi komentator apa pendengar yang baik?" tanyanya. 

"komentator dong"

"I think you are stupid" 

"hahahhahha" itu kata pertama yang aku respon atas kalimat terakhir 
"kok :(" lanjutku.

"really stupid"
.....
percakapanpun semakin panjang, komentarnya tajam dan tepat, ku rasa.
Tapi ada kalimat yang akhirnya benar-benar menyadarkanku

"... tapi kamu gak cukup bagi dia"
"Because you are not enough".

***

Yah ! that's the point ! sejak kalimat itu aku baca, aku baru tersadar, ini kata-kata yang selama ini aku cari untuk meyakinkan aku. 

Awalnya mungkin kami sama-sama curang dan sama-sama bermain. Sama-sama memanfaatkan waktu yang ada. Ada dia di hidupku, tapi aku masih sibuk mencari sana sini, mencari yang aku butuhkan. Begitu pula dengannya. Ada aku yg menemaninya, tapi ia masih saja mencari apa yang ia mau. Dan awalnya kita tak mempermasalahkan itu, dan aku menyadari bahwa pada akhirnya nanti kita akan sama-sama menemukan apa yang kita cari. 

Tapi perjalananku menjahui kota yang disebut romantis bagi kebanyakan orang, di libur pergantian tahun justru membuat aku tersadar. Jauh dari tempat aku tinggal, dengan keadaan yg serba terbatas, dengan kesibukan aku menikmati liburan, awalnya aku kira disana aku akan menemukan seseorang yg aku rasa cukup. Dan aku akan tahu sepenting apakah orang-orang disekitarku saat ini, karna kata orang, kita akan sadar seberapa penting orang itu jika kita sudah kehilangannya.

Dan benar saja, aku mendapatkan pelajaran penting. Salah satunya aku menyadari, bahwa melewati hari penting seperti tahun baru memang lebih terasa manis jika kau lewati bersama orang-orang yang kalian sayangi. Dan bersama mereka yang kau anggap keluarga, lebih akan berkesan walau tanpa kembang api, tanpa pesta yang luar biasa. Hanya dengan berkumpul bersama, melewati pergantian tahun bersama, ku rasa itu lebih dari cukup. Dan sayangnya aku baru sadar setelah melewati moment itu. Tapi akan aku pastikan, tahun-tahun selanjutnya, aku akan melewati tahun baru bersama mereka, keluarga. Une famille. 

Dan dari perjalanku itu, aku juga baru menyadari, bahwa hidupku setahun yang lalu sudah cukup. Aku tak perlu menambahkan orang baru, atau tak perlu mengganti atau mencari lagi. Aku rasa dengan ritme hidupku yang lalu, akan sudah merasa baik-baik saja, dan sangat baik bahkan. Untuk apa aku harus lelah mencari dan mengejar sana sini jika sesungguhnya semua sudah seperti yang aku inginkan. Bahagia dan selalu punya tempat untuk pulang. 

Beberapa hari sebelum kepulanganku, aku sudah mulai memberanikan diri menunjukan siapa aku dan siapa orang-orang di samping aku. Bahkan aku berani menelfonya saat teman-teman lain sedang berkumpul. Rasanya aku tak ingin melewati seharipun tanpa suara dan kabar darinya. Aku rela membatalkan janji pergi siang itu untuk mendengar ceritanya dan malanjutkan pempicaraan yg baru berakhir setelah 3jam 20 menit.

Dan disitulah titik balik cerita ini, dan disinilah waktu yang tak berpihak. Disaat aku merasa "cukup" dengan dia dan dengan keadaanku yang kemarin, disaat yang bersamaan pula dia menemukan yang ia cari. Seseorang yang ia rasa "cukup" untuknya. Tapi sayangnya orang itu bukan aku. 

***
........
"sekarang pikiran aku bener-bener terbuka ! dan aku udah bisa menjabarkan dengan baik apa yang terjadi sebenarnya. Makasih ya !!!"

Yah, sore itu menjadi seperti obat paling mujarab yang pernah aku minum. Seperti keajaiban, entah kenapa rasa sesak yang sebelumnya menyelimuti sudah berangsur-angsur pergi. Rasanya aku terlahir kembali, dengan pikiran yg lebih jernih dan perasaan yang jauh, jauh lebih tenang.

***
Dan pagi sebelum kutulis cerita ini, banyak pesan masuk di handphone ku, tak ku sangka salah satu diantaranya, ada dia. 

Oh, ucapan terima kasih karna post card ku sudah sampai. 

Dan entah kenapa aku membalasnya dengan prasaan biasa saja, tak ada lagi rasa kesal atau emosi saat membaca dan membalasnya. Semua seakan kembali pada percakapan pertama kami di bulan agustus atau september 2014 lalu, ringan dan biasa saja. 

Teruntuk teman baikku, lekaki dengan dua A dan satu S di akhir. Terima kasih banyak atas bantuannya selama ini. Logika-logikamu memang tepat sasaran, berlandaskan dan sangat beralasan. Terima kasih untuk kapsul mujarabnya. Jika siang itu kamu tak hadir, mungkin langit masih akan mendung. 

Dan untukmu partner terbaik sepanjang masa. Aku baru menyadari, kamu memang partner yang baik. Terbaik yang pernah aku temui. Dan sekarang aku tersadar, benar katamu, kita memang seharusnya akan selalu menjadi partner yang baik. Tidak kurang dan tidak lebih.

Ujung dari sebuah perjalanan

Ini sebuah cerita cinta klasik pada umumnya. Mungkin bagi mereka ini terlalu drama, tapi tau kah jika cerita ini pernah ada pada waktunya.

IA baru saja membuka lembar baru di jendela laptopnya. Satu alamat yang ia sangat hafal keluar dari jari jemarinya. Sebuah layanan blog yang tak asing lagi baginya. Hari ini dari kedua setelah percakapan itu. dan Ia berniat mengabadikannya dalam sebuah tulisan agar kenangan itu tak benar-benar hilang. Tapi hal yang lebih mengagetkan, ia menemukan satu draft yang tak sempat di publish, bahkan belum sempat ditulis. Hanya judulnya saja "Best Relationship Ever", dibuat pada 14 Desember tahun lalu, bahkan belum genap sebulan lalu. Ia sadar, pada hari itu ia akan menceritakan betapa indahnya jalan yang sedang iya lewati saat ini, bersamanya. Tapi hari ini, cerita berganti. 

"aku mau cerita, terus kamu jangan marah ya kalau aku baru cerita hal ini ke kamu" ujar yang disebrang sana.

"kok aku jadi takut" ia pun membalasnya

"ya udah gak jadilah kalo kamu takut"

"iya gpp deh :" hahhah iyaalah gpp, dari pada aku mati penasaran hahha"

"zzzz"

"mau nelfon atau gimana ?" ia menawarka diri

"chat aja lah" balasnya.

"aku tuh mau cerita kalau aku udah deket banget sama si mbak. Dan udah pergi tiga kali an dan dia terus yang ngajak aku". Lanjut balasnya.

Tepat pukul 11:06 senyum ia mulai memudar, tangannya mulai bergetar. Dan saat itulah awal perjalanan ini akan berakhir.

***
Dia lelaki dengan satu I di tengah dan A sebelum akhir, 5 lainnya bentuk konsonan, semuanya menjadi 7 huruf yang mengikat sebuah nama. Tapi tak perlu kau sebutkan dengan lantang. 

Ia mengenal dia sudah cukup lama, ketika mereka sama-sama masih berseragam abu-abu, tapi bukan satu almamater. Tapi mereka mengenal lebih dekat sudah lebih dari satu tahun belakangan ini. Tak pernah ada yang benar-benar ingat awal mulanya, yang ia tahu, dia adalah teman bercerita yang baik. Lelucon mereka sama, dan ia bisa menjadi ia yang sebenarnya tanpa harus peduli apa kata orang. 

Bercerita dengan dia membuat ia lupa waktu, jari-jemarinya yang mulai letih bukan menjadi alasan untuk menghentikan pembicaraan yang sebenarnya tak penting-penting amat jika di baca kembali. Ia sering kali merasa bosan dan kantuk sata di kelas. Untungnya waktu yang membedakan mereka membuat dia bisa menemani ia melawan kantuknya. Ketika jemari lelah menari di keyboard gadget, masih ada cara lain untuk sekedar bercakap. 1 jam, 2 jam, 3 jam, 8 jam pun pernah. Dari bangun, tidur, sampai bangun lagi, telfon itu masih saja menyambungkan dua manusia yang terpisah jarak dan waktu. Tapi bagi mereka itu bukan menjadi masalah yang besar. Awalnya. 

Mereka tidak mencari, tapi waktu yang mempertemukan. 

Dan pada saatnya, pertemuan mereka manjadi lebih nyata. Ia bisa melihat fisiknya secara langsung. Matanya, tingginya yang semakin semampai, tubuhnya yang masih saja menggunakan size S atau terkadang M. Dan suaranya yang masih sama ketika teknologi masih menjadi menyambung. 
Tak lama ia bertemu dengannya, tapi cukup untuk membuat tahun ini menjadi lebih berwarna.

***

"Jadi kamu udah berfikir bakal jalan lebih deket sama mbak?" 

"Iya, karna dia tuh tau semua tentang aku sekarang. dia bla bla bla bla bla..." 

"Mbak dan aku bedanya apa?"

"Bedanya kamu disana, dia disni. itu aja kok"

Dan kalimat pengakhir itu yang membuat ia benar-benar merasa terasingkan. Akhirnya setelah lebih dari 365 hari bersama, jarak pun menjadi penentu siapa yang pantas dan siapa yang tersisihkan.

Dia mendefinisikan gadis itu sesempurna mungkin. 
Yah, Mbak, gadis cantik berkerudung itu memang nyaris sempurna. Matanya bulat cantik, kulitnya putih bersih, berat tubuhnya proporsional dengan tingginya, dan satu lagi, dia pintar. Namanya sudah memiliki gelar resmi. Tak seperti ia, yang jalan hidupnya entah masih harus kemana. 

.........
"Aku gak bakal gantiin kamu kok, aku bakal tetap seperti ini dan seperti biasanya, tapi kalau bagi kamu sulit "diantara" yasudah aku gak akan maksain, yang mana bagi kamu bahagia aja". 

(Mungkin) dengan lantang dia menjawab itu, menyimpulkan percakapan panjang ini. Tanpa penolakan, tanpa penahanan, tanpa defense yang kuat, dia melepas ia untuk pergi. Dan ia memang sewajarnya harus pergi. 

Ia tak mengerti mengapa kemudian air matanya mendesak untuk keluar, dan tak terbendung lagi. pecah sejadi-jadinya. Berjam-jam kemudian, ia masih sibuk mengurusi air matanya yang tak jua bisa diajak kompromi. Membiarkannya terbuang dan meresap disela-sela permukaan bantal itu. Hanya bisa bersembunyi dibalik selimut dan berlindung dari demam yang bahkan belum juga usai.


***

Sebuah hubungan yang sempurna. Tak perlu tahu tentang rasa yang ada, tak peduli bagaimana bentuk dan namanya, yang pasti ini menguntungkan dan saling membahagiakan. Selalu punya tempat untuk "pulang". Selalu ada sela untuk bermanja-manja di akhir pekan, selalu ada waktu yang bisa ditemukan untuk saling mengisi. Tanpa tahu akan kemana ini berjalan, akan sampai kapan dan bagaimana mengakhirinya, atau mungkin memulainya. 

Tapi hal itu justru berubah dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Ia baru saja merasa bersyukur dan di pertemukan dengan lelaki dengan satu I di tengah dan A sebelum akhir. Perjalanan panjangnya beberapa hari mencari sebuah kepastian, berujung pada jawaban untuk bersyukur dan tak meninggalkan. Tapi telat. Dia sudah terganti. 

***


Setelah berjam-jam ia habiskan untuk menyesali waktu yang berjalan begitu cepat, untuk cinta yang datang pada mereka di waktu yang tak tepat, untuk banyak kenangan yang berjalan perlahan melewati hari itu, dan untuk sebuah ketidak jujuran yang menjadi musuh. Ia tahu jika akhir perjalanan indah ini memang akan seperti ini, tapi tak menyangka akan semiris ini. Tak menyangkan bumbu ketidak jujuran harus tumpah diantaranya, kenapa semua harus menghilang di waktu yang bersmaan. Ia tersedu setelah bertahun-tahun tak pernah sekeras ini. Menyesali kenapa lagi-lagi ia terperangkap di rasa takut yang terlalu besar. 

Ia pernah bilang pada seseorang, bahwa sejak beberapa tahun lalu, ia selalu takut menghadapi pergantian tahun. Ia takut apakah tahun selanjutkan akan lebih baik atau sebaliknya. Terlebih dari itu, di awal tahun ia selalu mendapati ada yang hilang. dan ia terlalu takut untuk kehilangan lagi. Mungkin hanya tahun kemarin ia melewati bulan pertama di awal tahun dengan senyum bahagia dan puas. Tanpa sedih, justru januari melenggang dengan indah.  Lain hal nya dengan tahun ini. Dan benar saja, hal yang ia takutkan tahun ini benar terjadi. Kehilangan datang lagi dibulan yang sama. 

Dan malam ini, dari seorang teman ia menemukan sebuah cerpen cantik berjudul "Dijual : rumah dua lantai beserta seluruh kenangan di dalamnya". 

Dan dari lubuk hati yang terdalam, ia juga ingin menjual semua waktu dan kenangan yang dia tanamkan.

Dan pada akhirnya ia tahu, ini lah ujung perjalanan itu. Berkahir manis, untuk dia.

Masihkah kau ada (?)

Halo Tuan...
Apa kabar ?
Apakah kabarmu baik-baik saja ?
Aku hanya butuh kabarmu, bukan keluargamu, karna tanpa kabar darimu aku sudah tau.

Hai Tuan,
Bagaimana dengan project besarmu ?
Aku dengar kedai sederhana, sebentar lagi akan kau luncurkan ?
Jangan tanya tanya aku tahu dari mana, anggap saja itu bentuk kepedulianku
walau, mungkin kamu juga tak peduli.
Doa untukmu untuk kedai itu.

Hai Tuan,
sesudah pertanyana tadi, ada hal yang ingin aku sampaikan...
Apakah kita masih berteman ?
Apakah kita masih bersahabat ?
Apakah kamu masih menganggapku bagian dari keluargamu ?
Apakah kamu masih menganggapku ada ?
Entah lah Tuan, aku saja bingung mempertanyakannya, apalagi menjawabnya

Tuan, sebentar lagi genap 2 bulan tak ada kabar yang terhembus darimu,
dan begitu juga aku.
Aku memang mencoba tak mencarimu lagi.
Lelah Tuan. Aku sudah lelah mencarimu selama ini.
Menanyakan kabarmu, menanyakan ada cerita baru apa, dan selalu ada saat kau pinta.
Aku lelah hanya mengejar tanpa pernah kau peduli.

Tuan,
seorang temanku berkata, di dunia ini ada yang namanya "kaldaluarsa".
Awalnya aku menampiknya. Tapi sekarang aku tahu, jika kaldaluarsa itu mungkin ada.
Tuan, mungkin rasa sabarku padamu kini sudah kaldaluarsa lagi, tak bisa aku gunakan lagi.

Tuan,
boleh kah aku jujur ?
Aku kecewa padamu. Dan itu sering. Dan untungnya sering kali aku memaafkannya begitu saja
Tapi maaf, kali ini rasa kecewaku terlalu dalam.

Tuan, aku kecewa.
Kecewa saat tau aku tak kamu perhitungkan lagi dalam projectmu.
Aku kini hanya jadi penonton ! tidak lebih.
Kau tidak lagi berdiskusi denganku tentang apa dan bagaimana.
Yang awalnya usefull, kini jadi bius full ! aku kecewa

Tuan, ada kekecewaan lagi.
Kamu makin tak memperdulikan aku. Kamu tak lagi menganggapmu bagian dari keluarga(mu).
Kenapa aku tak kamu beri tahu bahwa kakakmu, segaligus orang yang aku anggap kakak sedang mendapatkan kabar baik. Kenapa Tuan, kenapa ?
Setidak penting itukah aku kini ?
Kenapa kamu yang ada disana tapi tak memberitakan sepatah katapun hari bahagia itu !
Aku bukan lagi bagian dari keluargamu ? Yah, walaupun kita bukan satu Ibu, tapi Ibu mu sudah seperti Ibu ku. Kau tahu itu !

Tuan, lupa kah kamu jika Jum'at yang lalu, itu ulang tahunku.
Ya ! Tanggal 13 bulan ini ! kamu lupa ?
Oh tidak lupa. Iya. Tidak lupa. Karna kamu ada di video itu.
Lantas kenapa tak ada ucapan langsung darimu ?
Aku terlalu tak berharga untuk kau sapa ? bahkan dihari yang aku tunggu ?

Tuan,
Adakah kita masih satu rasa ? satu paham? satu bahasa? dan satu keluarga ?

Tuan. Aku marah.
Dan aku ragu.
Aku mungkin mengecewakanmu,
Tapi kamu lebih mengecewakanu. 

Jum'at kala itu, 13 November hari itu...

Terima kasih tuhan,

Kali ini aku di pertemukan lagi dengan 13 November
Hari dimana untuk pertama kalinya aku melihat dunia
tempat cinta dan kasih sayang engkau tumpahkan.

Tuhan,
empat kali sudah aku lewatkan tanggal ini jauh dari rumah, entah rumah mana yang aku sebutkan
yang jelas.... 4 kali melewatinya tanpa teman-teman yang tumbuh sejak aku kecil.
Ya, mereka, yang aku sebuh sahabat.

Tuhan,
tapi terma kasih, disini aku lebih memaknai arti hari ini.
Bukan dengan perayaan besar, surprise yang mengaggumkan, kado yang indah, atau kue yang cantik.
Aku lebih tahu, jika hari ini tak sekedar hari yang bahagia, namun hari penentuan.
Siapa yang peduli tanpa kau minta, siapa yg memberimu ketika mereka tak sengaja tahu.

Iya tidak apa-apa. Mereka yang lupa bukan menjadi dosa besar. Bukan juga harus mendapatkan hukuman moril. Tapi aku tahu, di antara mereka yang mendekat, ada yang benar-benar dekat.

Tuhan,
terima kasih sudah mengirimkan mereka yang memeluku dengan hangat, yang menyayangiku dengan kurang dan lebihnya aku, yang tak menganggapku hanya pasir yg tertiup.

Untuk keluarga ku,
Terima kasih kakak, mas, mama, dan papa. Dan kali ini ada Fika yang sudah pandai memanggilku "aunty Indah", yang ikut menyanyikan lagu selamar ulang tahun walau hanya lewat sebuat video call. Faren yang terlihat lebih mirip kak hafiz, terima kasih, dan semoga berkah untuk kalian.

Untuk mu yang ada di jam 12 ku,
Terima kasih, engkau masih menyempatkan memberiku ucapan dipagimu yang padat, dan dimalam ku yang dingin kala itu.
Terima kasih untuk hadiah lukisan vector membentuk muka ku dengan rambut pendek yg selalau kau sarankan.
Terima kasih, walau kau tak menemani 24 jam dihari itu, walau suaramu hanya menemani sebagian dari hariku, dan walau aku tak bisa melihatmu walau hanya lewat layar itu. Tapi tak apa, engkau melengkapi apa yang kurang.
Maaf, jika malam itu keegoisanku memalukan. Maaf, jika aku masih saja merengek untuk hal yang mungkin menututmu tak penting. Yang aku mau hanya sederhana, melewatinya, menceritakannya, denganmu. seluruhnya. Hingga kantuk yang melepaskan. Tapi aku tahu, tak seharusnya aku menggantungkan harapan itu. Sederhana untukku, tapi memberatkan mungkin untukmu.
Maaf, dan terima kasih.

Untukmu keluarga baru ku,
Terima kasih, kalian menjadi atapku, tiangku untuk berpegangan, dan bantalku untuk menyenderkan letih ini. Terima kasih sudah berkumpul di malam yang dingin tapi bersuasa panas. Terima kasih untuk kue yang cantik dan lilin mungil yang aku tiup.
Terima kasih Alexa, Tamara, Mbak Arum, Talitha, Rolando, Hemas, Reza, Zaki, Kak Shevia, Bang Prama, Dewa.

Dan yang pasti,
terima kasih untuk semua yang ada di hari itu, Fauzan, Vanessa, Jeesy, Anggi, Galuh, Nanda, Rani, Vanessa, Kiki, Penta, group "anak papah", semua temen-temen yg nelfon, yg facetime, yg ngucapin langsung, nge chat di fb, nulis wall di Fb, di path, di line, wa, dan semua sosial media lainnya. Yang ngasih ucapan pake tulisan, foto, video dll.

Love you !!!!

Dan sekaligus... malam itu, tepat di Jum'at 13 November...
Paris berkabung. Serangan teroris mengguncang paris, 129 meninggal, 250 luka-luka dan 99 diantaranya luka parah. Jangan bersedih parisku, tak usah berlarut-larut dalam tangis. #PrayForParis

Terima kasih keluarga baru :*
Terima kasih vactor super niat mesennya :p

Terima kasih Anjani !


Terima kasih hujan, indonesia, dan galuh

 
Makasih kiki, debby, amal 

Makasih Ojan !!! (yg katanya gak usah di sahre, tpi bodo amat :p)


Reservasi tiket pesawat tanpa bayar (?)


photo by google

Problem reservasi tiket ini biasanya menjadi salah satu hal yang membuat kita galau berhari-hari kalau lagi mau buat visa. Mau beli tiket langsung, takut visa kenapa-kenapa dan tiket pelayang percuma. Tapi kalau gak beli tiket bingung mesti gimana. Kalau kamu domisilinya di Indonesia mungkin ada banyak jasa travel agent yang menyediakan fasilitas reservasi tiket. Tinggal mengeluarkan kocek 30.000 - 100.000 reservasi tiket pun di tangan. Tapi gimana kalau situasinya kamu ga menemukan travel agent yg bersahabat, dan kantong juga sedang tidak sehat ?

Tenang...
kali ini aku bakal sharing cara reservasi tiket GRATIS ! sendiri. di rumah. depan laptop kalian semua.

Kali ini aku bakal contohin reservasi tiket pake maskapai Emirates. Dan booking langsung dari webnya.

1. Masuk ke halaman web resmi Emirates

2. Cari rute perjalana yg kalian butuhkan. Tidak usah terlalu peduli sama harga, toh ini hanya "tipuan", gak ada 1 rupiah pun yang akan keluar dari dompet mu.


3. Lakukan pemesanan seperti biasa, isi data diri, dll.



4. Saat masuk di bagian pembayaran, di bagian payment methods, pilih option Emirates Office, lalu ceklis pilihan Pay at an Emirates office. Kemudian continue. 
! Ingat : reservasi ini hanya berlaku selama 3 hari. Jika tidak ada konfirmasi kepada Emirates Office, maka tiket dinyatakan batal. Jadi, sebaiknya kalian bikin booking ini 1 hari sebelum waktu appointment di kedutaan, jadi kalau ternyata pihak sananya iseng mau cek kode booking kamu, history reservasi kamu masih ada :D 

5. Jika sudah melengkapi semua proses, kamu akan mendapatkan kode booking. Atau kamu akan dapat email konfirmasi dari Emirates di email kamu. 




6. Voilà ! kalau email reservasi sudah mendarat cantik di inbox, semua tahap selesai ! sekarang kamu punya booking tiket sendiri, resmi dari maskapai terpercaya, dan pastinya gratis :D 



Semoga bisa membantu :)  

Rute menuju KBRI Paris

Hai semua,
Kali ini gue mau bahas rute menuju KBRI Paris. Menurut pengalaman disini, ada aja yang gak tau gimana cara ke KBRI, atau bagi kalian yang lagi traveling dan butuh banget mampir ke KBRI, berikut petunjuknya.

*sumber: google*


Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris terlatak di
47 Rue Cortambert, 75116 Paris
01 45 03 07 60

Tepatnya ada di Metro 9, stasiun La Muette (letak nya ada di sebelah kiri tengah)





 Di stasiun La Muette hanya ada 1 Sortie/Exit

Setelah keluar dari setasiun metro, tepat disebrang kalian ada Pharmacie (apotek). Kalian harus menyebrang dan jalan menuju Pharmacie tersebut.
Pharmacie di sebrang jalan
 Setelah di depan Pharmacie, kalian nyebrang lagi ke kanan jalan, ke arah Bank Barclays
Nyebrang ke arah Barclays

Setelah tiba di Bank Barclays, lurus aja ikutin jalan ke deretan bank CIC
Bank CIC ada tepat di samping Baclays

Dari Bank CIC jalan lurus dan nyebrang menuju butik Max Mara 

 Setelah tiba di Max Mara, kalian kajalan lurus saja sampai melewati toko electronic Darty



Dari DARTY, jalan lurus lagi sampai menemukan toko bunga ini :(toko bunga ini terletak di ujung persimpangan jalan.

Jika kalian sudah berada di ujung toko bunga ini, yang berarti sudah di ujung jalan, maka kalian akan menemukan 2 jalan yang bercabang. KBRI berada di jalan yang sebelah kiri. Dari ujung jalan, kalian sudah bisa melihat bendera Indonesia dan ASEAN.

Mudah kan untuk menemukan "rumah Indonesia" di Paris :)
Semoga membantu