Selamat Berjuang

Akhirnya aku disini.
di kota ini.
menentukan pilihanku sendiri.
aku juga masih tak tahu ini pilihan bijak atau sebaliknya.

Aku meninggalkan.
Meninggalkan sebuah janji untuk hari menyemangati.
Tapi aku rasa, tuan cukup sersemangat bersama mereka dan orang-orang itu.
Untuk pertama kalinya, tuan meminta.
untuk datang dan menyemangati.
Dan dipertama kali itu pula, aku mangkir.

pilihan berat Tuan.
ini tentang prioritas.
siapa yang kini menjadi prioritas.

akhirnya aku terbang malam itu.
tepat sehari sebelum harimu.
bahkan sampai detik bait ini ku tulis, aku masih belum tenang.
merasa salah telah mangkir.
namun merasa benar karna telah memperjuangkan.

Maaf Tuan.
Aku yakin kau baik-baik saja.
Aku yakin kau akan terbang ke Negri itu.
Selamat berjuang !

Bait-bait yang terlewatkan (3)

Setelah terlewat sekian lama, bait kesepuluh kuceritakan pula.
Bait dimana manusia-manusia baru datang sili berganti, mencoba untuk tinggal namun masih belum juga kubukakan pintunya.
terutama manusia asing terakhir, yang begitu kuat mencoba membuka pintu, ngucapkan salam, mengetuk hingga menggedor. Banyak kejutan yang justru membuat aku benar-benar terkejut. Maka siapa yang akan berakhir membukanya ? entahlah. tunggulah pada bait selanjutnya. 

Dan selamat datang bait yang kutunggu. tepat di purnama ke sebelas.
Kejutan semakin menjadi-jadi, menghantamku dengan tak ragu-ragu. kejutan baik, dan sebaliknya.
kejutan pertama diawal langkah, kabar berita dia telah mantap untuk mengesahkan apa yang dirasa sudah saatnya.
kejutan selanjutnya datang di pertengahan bait. di hari ke tiga belas. kejutan baik datang menyapa :) lengkapnya akan kuceritakan pada babak lainnya.
Singkatnya, ku tutup bait ke sebelas dengan rasa syukur, atas berkat yang diberikan. Atas kabar yang baik, walau mengejutkan. Dan kututup dengan ikhlas yang baru akan ke pelajari kembali.

Selamat datang bait penutupan. sekaligus penyelesaian.
akhirnya tak ada yang berhasil membuka pintu. mungkin lebih tepatnya tak kubiarkan mereka memasukinnya. Dengan berbagai macam pertimbangan.
Untuk Ibu yang membuka kan pikiran, terima kasih.
Dan untuk mereka yang harus pergi, maaf. lebih baik dari pada terus duduk di depan pintu sampai kapan :)

Entahlah, aku mulai tak bernafsu membagi cerita baitku ini.
mungkin akan ku ceritkan langsung pada setiap langkahnya.
agar nantinya, jika aku tak lagi mampu untuk mengingat, aku masih dapat membacanya. dan percaya bahwa langkah ini pernah ada.


Beginilah bait-bait yang terlewatkan di dalam rangkuman pertama.
aku juga masih tak mengerti masih ada rangkuman berikutnya atau tidak.
ku tulis ini pada pertengahan tahun berikutnya.
Dengan hidup yang baru saja bangkit lagi, dari dasar yang paling dasar.
butuh merangkak dengan kuat untuk dapat sampai ke permukaan.
Dibangkitkan dengan sebuah harapan, aku mencoba mengais apa-apa yang masih tersisa.
sedikit rasa percaya dan secuil kertas putih ditangan.
Maka semoga dengan yang apa adanya ini, akan segera menghasilkan doa yang selama ini ku pinta.

Untukmu yang sedang berjuang, mari kita berjuang bersama :)



Second hero

Ayah.
Yang selalu punya caranya sendiri untuk melakukan apapun.
mengerti apapun
dan menebak apapun

Ayah.
Yang tiba-tiba bisa mengirimkan pesan singkat walau jarak terlalu jauh.
Yang masih tetap menyemangati lewat kata-kata
Yang masih percaya aku istimewa
dan bisa

Ayah.
Sejak pertama bertemu dengan tatapan lembut.
Tak peduli aku berubah dan berevolusi
yang menerima apa adanya

Aku ingat, saat pertama kerumah dengan tampilan yang berubah
dia menegur dengan caranya lembut.
Aku ingat saat aku masih dalam masa perjuangan,
sering kami ia tiba-tiba menyapaku.
Di waktu yang tepat. saat penant memadat.
Mendoakanku dari jauh.

Ayah.
Punya kekuatan untuk mengganti jadwal kepulangan,
hanya untuk menyempatkan bertemu.

Ayah.
Yang akan repot menyiapkan makanan untuk buka puasa bersama
Dengan kesederhanaan yang istimewa

Ayah.
Kemarin malam ku tanyakan hal penting dari nya
dan untuk pertama kalinya, ia berputar putar tanpa jawaban
Mungkin aku tahu, ia tak tega mengatakannya.

Ayah.
Masih sama.
Tak akan rela melihat gadis kecilnya bersedih.

Ayah.
Semoga setelah ini, aku tetap gadis kecilmu
tetap orang yang kau tanya kabarnya.
Dan menyampaikan salam dari mama.
walau kau akan punya gadis kecil lainnya.

Ayah.
Yang bukan Papa.
Tapi mencintaiku dengan sederhana dan apa adanya.

Meja Hijau Pertama

Tuan,
Akhirnya hari yang tak pernah ingin ku alami terjadi juga.
Hari itu, meja hijau pertamaku, dan dia, dan manusia itu.

Tuan,
Untuk pertama kalinya lagi setelah mendung, hujan dan badai pada puluhan purnama, aku melihat manusia itu lagi.
harusnya tak boleh memendam rasa amarah berkelanjutan.
Namun rasanya dadaku memanas, sesak akan udara penat yang tercipta dari sekelilingnya.

terakhir kali aku melihatnya masih menjadi sosok dengan dua kepribadian yang bebeda.
penuh dengan senyum.
walau ternyata itu palsu.
dan ia buas.

Tuan,
Mendekati hari itu, tidurku tak tenang. gelisah sepanjangan.
Aku bingung mendeskripsikannya.
Membaginya pun tak kuasa.
Entah harus kubagi dengan siapa.

Tuan,
Tepat pada malam sebelum pagi itu, perutku mulas sekali.
mulas tanpa sebab, obat pun ku rasa tak akan mempan.
rasanya ingin ku memutar nomor telfon mu lalu memuntahkan semuanya padamu.
Tapi aku ingat, mungkin kau tak terarik lagi dengan masalahku.
atau tak terarik lagi dengan hidupku
dan semua pernak-perniknya.

Tuan,
Menjadikanmu tempat sampahku, tak pernah aku sesali.
Hanya saja, kenapa harus kehilangan
menghilang
hilang
pergi
atau sengaja pergi
Tuhan terlalu baik,
padaku ?
atau padamu ?

Tuan,
Tapi pada akhirnya aku memiliki kekuatan shailormoon .
Di pagi yang tak pernah kuharapkan itu.
Aku bisa mengontrol semua emosiku.
ku kerahkan dengan amat sangat baik.
Dan aku berhasil !
buktinya manusia iu tidak berakhir di rumah sakit bukan ?

Tuan,
ternyata aku benar-benar sadar.
Dengan atau tanpamu, pagi akan tetap datang.
hidup akan terus berjalan.
dan aku bisa melewatinya dengan baik. ku harap begitu.
Dan sakit perutku dapat reda tanpa suaramu.

Maka Tuan,
selamat berbahagialah.
dan Manusia itu pula. segera enyahlah dari sekitar kami.
Karenanya, rusak susu sebelanga.

KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA DIA RUMAH KU KIRA DIA RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KITA AKAN MENJADI RUMAH. Ternyata bukan.

Rasanya Pulang

Dan agar ingatanku terus ada untuk hari yang baik kala itu, maka akan ku bagi dalam sebuah rentetan baik yang pastinya akan teramat panjang. Andai semua titik baik dapat diceritakan dengan baik, maka   hingga kedai ini berberes untuk menyelesaikan tugas ini pun, bait ini tak akan selesai begitu saja.

Maka nikmatilah setiap waktu yang kau lewati. 

Rasanya pulang memang membahagiakan ternyata. Asalkan kita pulang pada tempat dan waktu yang tepat. Dan satu pesanku yang harus kalian ingat, turunkan ekspektasimu.. maka bahagialah engkau. 

ritme ketiga belas dibait kesebelas akhirnya datang pula. 
Kali ini aku melewatinya di tanah kelahiran. Yah, benar-benar lahir. Karena aku lahir di tanah Jakarta yang padat akan segala kepadatannya. Dan disinilah aku melewatinya. Setelah lebih lama dari bang toyib yang dicari-cari semua orang, akhirnya aku pulang. Menerima dan melewati semuanya dengan sekuat tenaga. Indonesia, yang selalu bersyukur atas tumpah ruahnya.



Malam itu sibuku untuk bersiap tidur. Cukup larut memang, karna malamnya kulewatkan dengan menonton pertunjukan bersama rekan. Teman kecil menjadi yang pertama menyapa, mengucapkan selamat di hari baik, bersama dengan doa-doa baik diikutinya. Terima kasih Almas, manusia insomnia dan gila akan game, gila pula dengan koding dan teman-temannya. 00:06 masih terlalu sore untukmu kan ? 

Entahlah, terlalu mimbingungkan untuk bagian ini. Sesungghunya teman kecilku satu lagi telah menitipkan seonggok benda kecil sejak minggu malam. Maka sebelumnya, kubuka pembungkus ungunya pada menit pertama. Bersini tas pink cantik yang katanya dipersiapkan untuk menemani perjalannku nantinya. Galuh kecil memang seperti ini, memberikan sesuatu yang aku butuhkan tanpa kuminta. Maka Galuh baik, terimalah persembahan dari hati ini :)

Pada barisan kedua, terima kasih untuk teman baru. 00:23 terlalu buruk. Banyak terima kasih untuk Alit, manusia baru yang terasa lama. Tak beremu memang hari itu, walau kita berada ditanah yang sama. Maka begitu saja bait ini untukmu dihari ini. Hari esoknya mungkin akan kuceritakan pada lembar yang lain. Karna lembar ini khusus untuk halaman ketiga belas. Maafkan. Namun terimakasih teramat banyak untuk hari esoknya. Dan hari ini, yang datang menemani saatku tulis cerita kali ini. 

Barisan ketiga... ini muar biasa ! pesan singkat digroup keluarga dari mama sungguh mengharukan. Entah mama ingat berkat siapa, atau mungkin mama sedang ingat pada tahun ini, karena biasanyaaa pada hari baik untuknya saja ia lupa. Ingat beberapa tahun yang lalu ketika kecil masih menjadi bagian dari hidupku, dihari baikku mama justru pergi meninggalkan kota tempatku tinggal saat itu, namum sepucuk surat ditinggalkannya dimeja belajarku. Subuh datang, dan kubaca dengan seksama. Perlahan tapi pasti, sesak didada mulai menjalar... 
Dan seperti yang kuingat isi surat tersebut... aku memang sudah besar kini. Jauh lebih besar dari saat itu. Sama seperti mama, rasanya baru kemarin mama memelukku dengan erat disetiap perjalanan pergi dengan mobil, karna aku pemabuk yang manja. Dan kini, inilah aku. Tak lagi mabuk darat, bahkan aku bersahabat dengan jalanan. Tapi, rasa sayang ini terlalu dalam. Dan akan terus bertumbuh selayaknya anak terkecilmu ini. 

Sayangnya.. ingatanku mulai sangat-sangat memburuk. Setelah baris keempat disiini oleh Nanda, sahabt kecilku sejak belasan tahun yang lalu.. aku tak lagi bisa mengingat selanjutnya. Mungkin kak Shevia si kakak kesayangan, atau mungkin orang lain ? 

Dan pagi masih menghantui, terbangun karna suara bell yang tak kunjung berhenti. Dengan agak tergesa aku berlari ke arah pintu. Dan menemukan Rani di depan pintu dengan hokaido ditangan, tak lupa lilin yang sudah menyala. Gadis iini, terlalu mengejutkan ! karna setahuku ia masih di Semarang! kenapa ada di depan pintu ? 
Dan seminggu ini adalah bagian dari sekenario terbaiknya. Ia beralibi di Semarang, padahal telah selinggu ia di Jakarta. Rani, selamat kamu sukses !


Yah begitulah.... ada banyak barisan yang terisi, 5, 6,7,8,9 dan seterusnya. 
Tak sebanyak jika sosial media memunculkan beritanya memang. Karna semakin besar, bukan sekedar selamat yang aku butuhkan. Tak perlu lagi sebanyak apa orang memberimu rasa selamat karna tidak sengaja, namun... mereka yang mengingatnya dengan baik, mereka yang mengusahakan dengan niat, dan mereka yang memberikan waktumu dengan ikhlas.. itulah hal-hal terbaik di hari baik. 

Tak ku sangka, ini rasanya pulang. dikelilingi semakin banyak orang yang sayang. Dan aku teramat bersyukur, ternyata mereka sayang dengan teramat baik. Terlalu bahagia untukku. 

Kolega kerja terbaik sepanjang masa. 
Tak pernah ada kata menyesal untukku hadir ditengah-tengah mereka yang teramat luar biasa. Yang membagi rasa cintanya dengan teramat baik. Yang menunjukan rasa sayangnya teramat putih. 

Untuk kak Shevia... 
Kakak terbaik sepanjang masa. Selain Kakak dan Mas ku dirumah, Kak Shevia adalah salah satu jenis kakak yang teramat sayang untuk dilewatkan. Maka dengan baiknya, ia ciptakan keinginanku untuk punya kue bahagia berbahan dasar mie goreng. sesuatu yang aku inginkan sejak awal tahun :D 
Dan kejutan terbaik hari ini masih berlanjut. 
Untuk Bos baik, untuk partnert kerja tersayang Mbak Editha, Mama Anisa, si manis Shofa, Mas Ryan, manusia Poubelle Pemi, Princess Arini, dan Mbak cantik Arian, Kakak dewasa Cathrine. Kalian Luar biasa ! 
Teruntuk "Kami yang sayang kamu" ; Editha, Bimo, Sabrina, Shofa, Arini, Pemi dan Helen. Tas hitam yang menjadi buah sayang kalian telah kuterima dengan baik. Dan teramat baik. 
Tar pernah kubayangkan hari itu sebahagia ini. Teramat bahagia. Sungguh.






Selanjutnya, malampun menjelang. 
Ku juga memberikan hadiah untuk hari ini. Sengaja kupilih pertunjukan dihari ini, agar tak terlalu terasa sepi jika akhirnya memang harus kelewati dengan biasa-biasa saja. Maka, pilihan untuk membuat diri sibuk adalah hal terbaik. Maka bersama Giselle, Fikri dan teman Fikri kami memasuki ruang pertunjukan dengan harapan melihat hal yang menghibur untuk malam yang baru saja diguyur berkat.


Dan ku juga telah mengantongi kata selamat dari Fikri dan teman Fikri. bonus dengan kotak kecil bersampul batik yang dititipkannya untuk hati ini. Lebih tepatnya barang itu telah menjadi miliku kini. ternyata berisi CD Sheila on7 yang entah ia masih menemukannya dimana. Terima kasih teman baru ! 

Dan belum genap setengah sekenario pentas itu dimaikan, Kodok menelfonku ditengah acara, "Aku di TIM. Kalau dalam limat menit ga keluar, kami pulang". 
Maka tanpa berfikir panjang, ku putuskan untuk keluar dan mencarinya. Tepat di depan XXI seperti yang kami janjikan. Dari belakang, aku dikagetkan dengan sekotak donat JCO kesukaan. Kodok dan Debby yang entah bagaimana bisa menjadi sangat niat hari itu. 
Dan begitulah mereka menutup hariku dengan teramat baik. 

Usut punya usut.. sejak sore hari Debby memutuskan untuk mengajak kodok menemui ku, setelah percakapan singkat, maka mereka memutuskan untuk menunda pertemuan. Debby sudah diperjalanan kembali ke kosaan saat itu, ketika akhirnya Kodok memutuskan untuk menemuiku juga malam ini. Dan dengan sisa semangat yang masih tersisa.. Debby kembali memutar arah. Berhenti pada halte terdepan dan mengambil jalur sebaliknya. Tak lupa menyempatkan membeli JCO beserta lilin dan korek api. Dan begitulah perjalanan panjang mereka malam itu.




Tuhan... 
Teramat banyak nikmat yang engkau berikan untuk hari itu. Teramat cukup untukku. 
Engkau masih menunjukkanku mereka-mereka yang rela memberikan waktu-waktunya untuku diwaktu yang sempit ini. Mereka yang merelakan waktunya untuk menyiapkan banyak hal untuk hari itu. Dan mereka yang tersisa diantara banyaknya nama yang ada. 

Kalian yang aku syukuri, 
terimalah rasa sayangku teramat tulus ini untuk semua yang telah kalian usahakan dihari ini maupun dihari esok dan esoknya lagi. Sebuah bentuk rasa syukur untuk kehadiranku dibagian hidup kalian. 
Dan rasa syukurku dipertemukan dengan kalian yang tersisa :) 
Aku berhutang bahagia yang teramat banyak pada kalian. 

Oh. Separti ini rasanya pulang diwaktu yang tepat. 
Sudah teramat lama rasanya aku melewatkannya. 

Walau... ada yang kurang. 
Kemana Amal ? 
terlalu sibukkah ia dengan hidupnya yang baru ? 
Kemana Fauzan ?
melupakan tanggal bahagia kita yang hanya berbeda 6 hari ? 
Tak apa, mungkin itulah adanya, mungkin tak seburuk fikiran. Berbaik sangkalah. 

Namun tetap ku syukuiri 24 jam terbaik pada tahun ini :)

Selamat menjalani hidup baru Indah :)
Setengah abad ! Harus semakin baik dan baik dan baik lagi 
semoga doa yang pernah ada segera didengat Allah 
Semoga akan terus bahagia disetiap langkah. 

Langkah kedepan akan terasa lebih berat. Aku tahu, teramat berat aku lewati. 
Tanpa mata, telinga, kaki dan tangan yang sama lagi. 
Harus kuterima, karna memang bukan miliku selama ini, hanya kupinjam dan harus segera ku kembalikan kepada yang akan benar-benar memilikimu. 

Maka, 
Kuatlah !











Bait-bait yang terlewatkan (2)

Bait kelima pun terisi penuh. 
Sepenuh rasa yang tak sempat tertulis dengan baik.
Setelah begantinya bait keempat, rasa rindu memuncak keubun-ubun.
Maka dipertengahan bait kelima aku putuskan untuk bertemu. 
Namun tak banyak yang kudapatkan. Seperti biasa, pulang dengan dadak yang sesak dengan banyak nya cerita yang teroreh sepanjang hari. 
1 hari tak lebih dari 24 jam, niat bertemu berakhir dengan rasa ikhlas dan sabar yang masih lagi-lagi harus teruji. 
Dan dibait kelima, sebuah sistem baru ditemukan. Bertemu manusia dari antah berantah ternyata tak selamanya buruk. 

Bait pertengahan mulai masuk perlahan. 
Terkejutkan dengan hal yang tak pernah disangka. "The best person i ever have". Kalimat yang tak pernah terfikirkan akan masuk ketelinga ini. 
Baiklah, sebuah signal terang datang. Dan sepertinya harus benar-benar disadari dengan baik. 
Taukah jika hari itu buruk untuku. Salah satu terbutuk sepanjang sejarah. 
Bagaimana rasa kecewa bercampur untuk hal yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat. 
Bukankah aku pernah berkata, mohon untuk mengindahkan apa yang aku sampaikan. Kalimatku bukan hanya pemanis. Jika untukmu kata tidak berarti tidak, maka mengapa kata tidak untukku tak kau indahkan pula. 
Jadi itu yang menurutmu yang terbaik ? disaat orang disekeliling tanpa ku minta menceritakan apa yang sebenarnya tak perlu aku tahu ? mengapa yang engaku definisikan berbeda dengan apa yang mereka definisikan ? Dan lagi-lagi kondisi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. 

Tapi setidaknya dibait keenam aku bertemu dengan banyak hal. Cara bertemu manusia asing yang tak pernah ku sangka. di kedai fastfood berwarna kuning, menghabiskan sebagian malam dengan bercerita. Dia yang ternyata telah pernah mencoba, namun gagal dengan cara yang teramat buruk. Turut bersedih untuk itu. Tapi maaf, bukan maksud untuk tidak menerima keadaanmu, namun cara kita berjalan dan menjalani hidup tak sama. Apakah kita masih berteman ?

Bait ketujuh semakin ramai hiruk pikuk cerita orang asing dan banyak hal asing yak tak pernah ku duga sebelumnya. Pertemanan yang semakin teman ? berbedaan antara caramu berterima kasih pada tuhanmu dan caraku berterima kasih pada Allah ku ? 
Pertemuan dengan orang orang asing kedua-ketiga-dan keempat. 
Pertemanan baik dengan salah satu orang asing hingga kini, dan menjadi lebih dari teman untuk temanku. Menarik bukan ? 

Bait kedelapan mulai datang ! Bait yang tak sabar ku sambut. 
untuk kunjungannya di akhir bulan, kunjunganku ke tempat impian, dan hadirnya si "putih" dalam hidup. 
Selamat untuk keputusanmu akan memilihnya. 
Maaf jika aku bukan orang yang tepat untuk bisa kau ceritakan. Karna aku terlalu muak untuk hal yang kau anggap biasa. 
Definisi baik dan buruk ? perkara apakah menutup aurat atau tidak ? hanya itu ? 
walau bungkus sudah terbuka, asal kini tertutupi kain di kepala, maka semua akan baik-baik saja ? 
Maka harusnya segel bukan harga yang harus dibayar mahal, bukan ? 
Tak apa, kau sudah memilih bukan ? aku akan selalu ada dipihak dimana bahagia akan selalu disampingmu. Maka berbahagialah. 
Namun maaf untuk pertengkaran hebat kita di lantai atas. Aku rasa ini yang pertama dan terakhir. 
Untukmu yang tak pernah aku lihat menitihkan air mata. Maat untuk hari itu. Terkutuklah aku jika hal itu datang kembali. 

ini masih tentang baik delapan yang teralalu padat, sepadat Jalanan jakarta pada hari kerja. 
Dimana Tuhan masih memeluk mimpi-mimpi hambanya. 
Terima kasih Tuhan, untuk banyak berkat yang kau berikan padaku. 
Tempat impian yang akhirnya aku singgahi. Walau datang tidak dengan dia atau dia. 
Namun tetap semenarik apa yang aku bayangkan. Pergi bersama mereka yang selalu memberi keceriaan disetiap detik yang berjalan. Maka, untuk gugusan pulai komodo yang mempesona... 
kutitipkan cerita dan rindu pada mereka yang menginginkannya pula, walau belum saat itu untuk mengunjungimu. Tapi percayalah, mereka mengagumimu dari jauh. 

Duapuluh satu hari pada bait kesembilan. 
Disinilah aku menulismu.
Bersama orang asing yang akhirnya menjadi teman duduk berhadapan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kami selesaikan. 
Aku dengan cerita bait bab ini, dia dengan tujuan hidup barunya. 
Baik ke 9, orang asing datang dari jauh. menarik untuk berkabar, tapi waktu belum mempertemukan. 
Yang akan sidang untuk hidup tahap dua nya, selamat berjuang ! doa terbaik untuk setiap usaha baik. 

maka, tunggulah saja bait-bait selanjutnya, tersisa empat. 
satu diantaranya menjadi yang kutunggu. Semoga baik.