Bait-bait yang terlewatkan

Kemudian datang lagi.
Dengan telah melewati banyak hari
Banyak bulan
Banyak bait yang tak sempat ku tuangkan.
Mari merangkai kembali
dengan usaha untuk jujur pada setiap katanya.

Setelah rangkaian minggu-minggu berat, setelah terbiasa dengan ritme yang ku atur kembali, dan setelah melewati lembaran-lembaran kertas yang berakhir di meja juri.
Sampailah di mana keputusan harus diambil, pulang atau tetap di sini (yang sekarang menjadi di sana). 
Sempat terbersit akan dikunjungi oleh orang-orang tersayang, persiapan sudah menjadi siap. Hingga akhirnya berita itu datang, dimana rencana hanya menjadi wacana, dan tak pernah menjadi nyata. 
Maka, setelah pertimbangan yang terlalu berat untuk ku putuskan sendiri, maka aku bergerak  pulang dengan sendiri, dan sendirinya. Ditemani dengan tas ransel penuh sesak berisi barang rongsok yang ku paksakan masuk demi untuk berjaga-jaga menjadi obat jika tiba-tiba rindu akan kota itu datang. 

Maka di hari ke dua puluh dua di bulan ke delapan di tahun ke empat aku di negri itu, aku melangkah pulang. Pulang ke tempat yang mungkin seharusnya aku kembali setelah perjalanan panjang ini. 

Kepulangan menjadi hal yang aku rindukan. Untuk pertama kalinya melihat kembali kota itu. Kota dimana aku menghabiskan masa SMP dan SMA ku. Pulang menjadi hal yang terberat, namun melegakan. 
Dan akhirnya aku datang untuk pertama kalinya ke kedai kopi bernama pulang. Hasil karya dari manusia yang berprinsip bahwa semua harus pulang, termasuk dia, aku, dan orang-orang. Tapi sayang sungguh disayang, sesaat ketika tiba disana, aku tak merasakan aku pulang. Mungkin aku yang canggung melihat semua tak lagi sama ketika aku pulang. Terlalu banyak improvisasi sana sini hingga aku tak mengenali tempat ini, dan mereka yang ada dibaliknya. Yah aku tahu, sepertinya ini hanya rasa canggung sesaat. Atau mereka yang tak terbiasa melihat aku kini.

Kepulangan akhirnya mengantarkanku kembali ke tempat itu lagi, kampus yang nun jauh di sana. Dan untuk kedua kalinya dalam hidup aku menginjakan kaki di sana. Kali ini untuk melihat dia yang akhirnya berbahagia dengan toga wisuda. Ya, benar aku hanya melihatnya bukan menemuinya, karena itu mungkin yang terbaik, agar tak ada pihak-pihak yang harus merasa senang atau bersedih untuk itu. Maka cukup ku ucapkan melalu tanda yang kutinggalkan disana, dan doa yang sudah terbang ke atas sejak pagi datang. 

Setelah hari-hari pertama kedua, ketiga, keempat, aku kemudian memutuskan untuk menyusun hidup kembali. Mencoba peruntungan hidup di ibu kota. Dan ternyata ibu kota masih memeluk erat anak bungsunya. Aku mendapatkan rumah baru di satu bulan selanjutnya. Tempat dimana 9 jam perhari, 5 hari dalam seminggu aku berlabuh. Di jalan yang tersohor disetiap telinga penduduknya, M.H. Thamrin. kembali ke "rumah" lama, tempat aku pernah menimba ilmu mengenal Prancis. 

Bulan kesebelas di tahun lalu pun akhirnya datang lagi. 
Yang berbeda adalah, pada bulan ini aku tak meninggalkan apa-apa di blog ini, bahkan untuk mengucapkan : selamat menempuh umur baru. Biarlah semua aku simpan di kepala. tapi ternyata, ingatanku semakin melemah, takut jika sampai pada saatnya aku tak lagi bisa mengingat, maka kuputuskan menulis apa yang perlu diingat. Maka pada bait ini akan aku ceritakan sedikit : Pada hari ke tiga belas di bulan ini, ternyata aku tidak di negeriku sendiri. Angin tugas membawa ku untuk ke negeri sebrang, yang katanya metropolitan dan maju bukan main. Terbang bersama sahabat baik sekaligus tetangga baik beserta keluarga. Melewati malam 13 dengan berjalan di sepanjang pinggir sungai, tanpa perayaan, cukup doa dari hati masing-masing. Maka begitulah tanggal 13 itu berlalu. Tak banyak yang istimewa, jauh lebih sendiri dari pada di perantauan. Tapi tak terlalu pahit untuk dikatakan pahit.

Maka, mari kita masuk ke bait selanjutnya, bulan terakhir, bulan penentu. 

(tapi mari kita lanjutkan hari esok.. karna aku harus sudah meninggalkan tempat ini..) 

Maka tahun terberat dalam hidup pun akan segera berakhir, Mengakumulasikan apa saja yang pernah dilewati. Tahun terpanjang dalam hidup, tahun jungkir balik, dan tahun mengikhlaskan.
Tapi siapa disangka, di akhir tahun justru kuntum bunga itu mekar kembali. Sapaan singkat mengawalinya. Obrolan ringan makan siang dan jalan menuju rumah, Namun ternyata itu hanya cukup menjadi pemanis akhir tahun saja. Karena pada bulan pertama di tahun baru, semua menjadi baru. Termasuk semua yang ala kadarnya ini, namun cukup manis untuk membuat tersenyum. Maka terima kasih sudah sempat singgah walau sebentar.

Selamat tahun baru !
Semoga dua ribu tujuh belas semakin tahu arah tujuan di hidup yang baru.
Malam pergantian tahun berlalu di kota sungai, malam sebelumnya terlalu bising untuk meributkan hal-hal tentang ego. Maka di awal ini, ku putuskan untuk membuatnya menjadi baik-baik saja. Datang ke kedai kopi itu kembali, bercampur bersama mereka yang setengahnya tak benar-benar aku kenal. Menghabiskan beberapa menit pertama hanya dengan duduk di kursi bertemankan ponsel dan kabel pengisi batrainya, terlihat sibuk walau itu hanya upaya menyibukan diri. Dan puluhan menit selanjutkan ku habiskan dengan menengadahkan kepala pada langit yang betaburan cahaya api warna-warni. Bersyukur lokasinya yang tak jauh dari hotel yang hingar bingar, maka aku ikut merasakan kemeriahan yang ada di atas sana. kilatan cahaya yang lama-lama menghilang di langit malam menyisakan asap. menguap dan pergi. Seperti percakapan kami yang ikut menguap pergi terlalu jauh, kemudian menghilang sama sekali. Maka ini kembang api pertamaku setelah pulang, dan pertama bersama mereka dan dia.

Maka bulan kedua yang katanya bulan penuh kasing sayang, ku lewati begitu saja tanpa hal-hal yang terlalu penting untuk diingat. Hanya sedikit catatan kecil, menerima sapaan dari yang asing "Hy" ujarnya kali pertama.

Dreams come true. Ini bait yang paling tak sabar ku ceritakan. Sekian lama mengagumi mereka lewat musik dan lirik yang kerap kali tertinggal di kepala, akhirnya bisa merasakan langsung gegap gempitanya ruangan itu disihir oleh lantunan mereka. Coldplay di akhir bulan ketiga. Pergi ke negeri dengan patung singa putih bersama dia yang selalu membahagiakan, dan selalu meninggalkan rasa kesal setelahnya. tapi itulah dia, pahit dan manis di gelas yang sama, panas dan dingin bercampur, affogato.

Maka perbatasan bait ke tiga dan ke empat di tahun ini menyenangkan, dan mengesalkan pastinya.
Tempat itu bukan kali pertamanya aku singgah. Namun, menjadi tour guide untuknya sudah kubayangkan sejak sebelum benar-benar pulang ke negeri. Menunjukan tempat yang pernah aku kunjungi sendirian di malam terakhir di negeri itu tahun lalu. Menceritakan beberapa hal yang belum sempat ku kabarkan. Aku merasa menjadi pilot untuk perjalana ini, tapi tetap merasa punya nahkoda yang dapat ku andalkan. Dan ibu kota terasa berbeda di bulan ini. Untuk pertama kalinya ada yang menungguku pulang, sekaligus menjemput. Maka aku berterima kasih untuk hal-hal baik, dan pada yang buruk namun tetap terasa baik.

Maka inilah bait-bait yang terlewatkan dan tak sempat aku sampaikan. Ku ceritakan kembali pada singkatnya kata dan samarnya arti. Hati-hati untuk mengartikan banyak ketidak pastian. Maka lebih baik bertanya dari pada sesat di jalan.

Terima kasih untuk manusia-manusia baik yang hilir mudik dibanyaknya waktu bersama.
Semoga pertemuan, perjumpaan, percakapan, dan semua yang pernah ada dapat berkesan walau tak begitu berkilauan.

Selamat pagi baik ke lima ! bersahabatlah














Perempuan yang beruntung, dan lelaki yang malang

Apa definisi beruntung untukmu ?
yah.. banyak memang.
tapi setidaknya satu dari ku, kamu menjadi pilihan untuk orang yang nyaris sempurnya.

Lalu, apa definisi sempurnya ?
Ketika kamu bisa melihat gelapnya menjadi terang, dan terang nya menjadi cahaya mu.

Dan pengertian dari perempuan yang beruntung ?
Perempuan yang terpilih, dari ia yang diam-diam sejak lama ada di radarku.

Dia, mungkin menjadi salah satu lelaki termalang tahun ini.
malang, karna ia bertanya tentang rasa pada orang yang salah.
Salah karna pada akhirnya, ia harus tau bagaimana rasanya menjadi pejuang yang kalah.

Single ?

"Punya banyak temen, punya banyak temen cowok, kok masih sendiri ?"
Kalimat itu bukanlah kalimat pertama yang aku dengar, dan aku yakin tidak akan berhenti pada hari ini. Kalimat lampau. Dan aku pun bosan menjawabnya.

Apa menjadi sebuah keharusan, wanita seumuranku harus sudah memiliki pacar ? gandengan ? gebetan ? tunangan ? atau apalah itu..
Bagaimana jika ini memang pilihanku. Apa salah memilih untuk sendiri dan tidak menceburkan diri pada masalahan yang akan berputar tak ada hentinya ?

Well..
Mungkin banyak perempuan cantik diluar sana yang mengingkinkan memiliki pacar di masa mudanya. Untuk membahagiakan hidup, ujarnya. Tapi jika aku memilih untuk menjadi bahagia bukan karna seseorang, itu bukan menjadi sebuah kesalahan, bukan ?

Terkesan seperti bermimipi memang, hanya diam saja tapi mengharapkan akan datang imam hidupku yang dikirim Allah. Tapi kemudian definisi "diam" harus kau perjelas lagi. Biarkan doa-doa ku pada-Nya yang menjadi saksinya. Karna pacaran bukan menjadi satu-satunya jalan untuk bertemu imam-mi kan ?

Tidak. aku tidak benci jatuh cinta. Aku tidak kapok patah hati. Tapi jika ada pilihan untuk tidak merasakan patah hati lagi, itu pilihan yg baik bukan. Sudah lah, sudah cukup rasanya mengulang fase yang sama. kenal-dekat-nyaman-menyoba serius-ternyata gagal-berakhir-berpisah-luka-sakit dan berulang dari awal lagi. Usaha "mengenal" akan lebih baik ku pergunakan untuk mengenal-Nya. Karna aku yakin, Allah selalu akan memberikan jalan yang baik untuk kita.

Tidak. Jangan kau katakan ini terlalu manafik. Ya, tingkat pengetahuan agamaku memang belum sempurna, aku pun sadar blm melakukan banyak kewajiban, apalagi sunah. Tapi berusaha memenuhi satu-persatu tak apa kan ? Aku tak berusaha untuk menjadi yang paling suci, tapi berusaha menjauhkan diri dari apa yang seharusnya bisa kita jauhi bukan menjadi hal yang salah, bukan ?

Maka... aku harap mereka mengerti.
mengenal, dekat, akrab, tidak harus menjadi aku pacarmu dan kamu pacarku kan ?
mengenal, dekat, akrab, dan kamu menjadi imamku dan aku menjadi ma'mum mu, bukankah lebih baik ?
pilihan kedua memang impian banyak orang, tapi tak ada salahnya jika aku berusaha mengambil jalan yang ke dua.
Maka, kenapa manjadi salah ketika memilih sendiri ?

Pada akhirnya biarkan air mengalir hingga hulu nya..
Dan kau yang diam-diam aku amati, semoga Allah mendengar doaku.

Selamat Menempuh Hidup Baru

Teruntuk untukmu,
Selamat menempuh hidup baru !

Ya.. hidupmu yang bukan lagi dengan status mahasiswa.
Akhirnyaaa waktu yang ditunggu-tunggu datang juga ! Sidang akhir. Dan kamu melewatinya dengan baik. Selamat. Sebentar lagi resmi menggunakan gelar sarjana di belakang namamu. Semoga ilmu mu berkah. Dan sekali lagi selamat !

Maaf aku tak membalas pesan terakhirmu pagi itu, pagi untuk mu dengan pagi buta untukku. Bukan karna apa, tapi aku tahu, balasan pesan dariku tak lagi penting untukmu. Aku tahu kamu tak membutuhkan itu lagi. Bahkan mungkin kamu tak menginginkan untuk bertegur sapa lagi dengan ku. Bukan kah pesat terakhir itu hanya bagian dari formalitas untuk memenuhi janjimu, jika menjelang sidang kamu akan memberitahu ku ?
Yah.. formalitas.
Memberitahu ku hanya beberapa jam sebelum sidang itu dimulai. Untuk apa ?
agar mempersingkat pembicaraan kita ?
...

Tak perlu.

Untuk mu yang pernah aku anggap teman baik ku.
Untuk mu yang pernah aku kira rekan kerja yang baik.
Apa sebutan itu masih layak untukmu ?

Pesan terakhir ku untukmu ku kirim pada tanggal 1, bulan ini.
Lalu tak ada lagi balasan dari mu.
Awalnya aku kira, sibuk mu tak tertahankan
Tapi kamu teralalu aktif di sosial media.
Sampai pada suatu ketika aku membutuhkan informasi lama yang harus aku cari di room chat kita.
Hari itu tanggal 10, tepat sepuluh hari sejak pesan terakhir ku kirimkan.
Lalu yang ku temukan, 3 pesan terakhir itu masih saja belum kau buka. Belum ada tanda "baca" pada ketiganya.
Lalu..
Kemudian aku sadar, mungkin memang kamu tak perlu itu. Dan tak menginginkannya.

Alasan apa lagi yang akan kamu gunakan ? Dalam sepuluh hari masih saja kamu tak menyentuh sosial media itu ? mimpi. Alasanmu terlalu klasik :)

Lalu tepat pagi ini, ketika pesan dari mu masuk. Mengabarkan hari ini akan menjadi hari penentuan akhir perjuanganmu.
Dan ketiga pesan yang sudah lama tak memberikan tanda "baca" itu akhirnya terbuka juga.

Jadi ?
Kamu sengaja tak membukanya berhari-hari ?
atau sengaja kau hilangkan percakapan kita dari room chat itu ?
Terima kasih :) Kamu memang teman yang baik :) Baik untuk ditinggalkan mungkin.

Ya, mungkin ini ke kanak-kanakan.
Tidak dibalas chatnya... kemudian marah.
Tidak, hal ini tak sesederhana yang kamu kira.

Memang, hak semua orang untuk membalas pesan mana yang akan ia tanggapi. Hak semua orang untuk memperlakukan sosial medianya. Tapi, aku akan lebih menghargaimu ketika kamu hanya membacanya, walau tak kamu balas kembali. Atau aku akan lebih senang jika kamu katakan saja bahwa tak ada lagi yang perlu di sampaikan. Lalu kita bisa mengakhiri percakapan dengan baik.
Bukan kah kamu selalu mengakhiri percakapan orang-orang yang tak kau inginkan dengan cara baik-baik ?
Lalu kenapa untuk ku kamu berikan hal yang sangat mengagetkan ?

Untuk mu, orang yang pernah ku percayai banyak hal,
ini kekecewaanku yang terdalam.
omong kosong dengan katamu yang akan selalu jadi teman ku ?
Rasanya.. pertemanan yang baik tidak di dasari atas hal ini.

Untuk mu,
tidak aku tidak akan marah lagi. Untuk apa ?

Maaf jika aku tak langsung memberikan ucapan selamat langsung untukmu. Sudah tahu kan alasannya ? Aku menghargai keputusanmu untuk tidak melakukan percakapan denganku. Jadi, inilah bentuk dari pengabulan harapanmu.

Awalnya, ku kirimkan seikat bunga putih dan biru ini untuk merayakan hari bahagiamu. Bahagiamu.
Sudah kutitipkan pada jasa pengantar barang itu. Tapi beliau berkata bahwa kau tak lagi di rumah, dan tak ada satupun orang di rumahmu. Kemudian, ia titipkan pada pagar yang berdiri kokoh di depan rumahmu.
Aku berdoa sepanjang hari agar hujan tak lagi turun, sehingga membasahinya.
Aku pun sempat berdoa, agar tak ada orang iseng yang mengangkutnya. Atau.. semoga bapak pengatra jasa itu tidak salah alamat. Tapi doa ku tak kunjung terjawab.
Ketika aku menulis ini, malam sudah datang di tempatku, hampir saja buka puasa. Lalu, apa kabar dengan dia yang tergantung di pagar ? 
Apakah kamu sudah terima itu ?
Atau justru sampai kau membaca ini suatu saat nanti, masih kau belum terima ? 

Jika kamu sudah menerimanya, terima lah dengan baik-baik.
Jika belum, cukuplah kamu tahu bahwa pernah ada niat baik dari ku. Jika akhirnya kamu tak menemukannya, mungkin memang bukan saatnya. Waktu saja tak mengizinkannya :) Setidaknya kamu bisa melihat bentuknya dari foto ini.

Sekali lagi,
kamu yang pernah aku anggap teman baik,
Selamat menempuh hidup baru !
Semoga hidupmu akan lebih bahagia.



Salam,
orang yang pernah kau sebut sahabat

Empat kali empat, enam belas

Satu kali empat, empat
Dua kali emapat, delapan
Tiga kali empat, dua belas
Empat kali empat, enam belas !

Tidak, kita tidak sedang akan belajar berhitung. Hanya saja aku sedang menimang-nimang angka empat.

Empat kali merasakan tahun baru di tanah eropa
Empat kali merasakan ulang tahun jauh dari keluarga
Empat kali merasakan dinginnya negeri ini
Empat kali melewati tanggal 20 Mei !

Entah harus senang atau sedih dengan angka yang sudah aku peroleh saat ini.
Besyukur, pasti. 4 tahun yang luar biasa, bahkan jauh dari tanah air, tak perlu kau ragukan lagi.

Ada banyak tempat yang dulu ak kira hanya akan berakhir menjadi mimpi belaka.
Ada banyak kota yang aku kira itu hanya ada di peta
Dan ada banya tokoh penting yang aku idolakan, yang tadinya aku kira hanya hidup dalam layar kaca.
Kini, sebagian mimpi ini benar-benar aku temui. Jalur-jalur yang ada di peta itu, benar-benar aku singgahi. Dan mereka yang ada dalam layar kaca, benar-benar aku salami.

Terima Kasih Ya Allah, atas berkat dan Rahmatmu selama ini.
Maaf jika aku masih belum menjadi pribadi yang baik seutuhnya.
Untuk ribuan hari yang sudah aku lewati di Prancis.

Aku masih tak tahu, apakan akan ada 20 Mei selanjutnya, atau ini 20 Mei terakhir untuk chapter ini.
Kalaupun akan berakhir, aku harap akan ada 20 Mei versi berikutnya, yang akan aku kenang.

20 Mei.
Hari pertama dimana kaki ini banar-benar menyentuhnya
Hari pertama dimana mimpi-mimpiku hidup kembali
Hari pertama dimana hidupku, ku mulai kembali

Sekali lagi, selamat melewati 20 Mei yang ke empat kalinya !




Printemps ! musim putus atau musim jadian ?

BIENVENUE PRINTEMPS ! 
Selamat datang musim semi !


Musim semi identik dengan musim yang paling di tunggu-tunggu banyak orang.  Mahasiswa di negara Jepang biasanya akan sangat menantikan musim ini, karna di musim semi lah awal ajaran baru sekolah dan kuliah di mulai. Di Prancis sendiri musim semi menjadi waktu yang di tunggu-tunggu. Selain bunga-bungan dan pepohonan yang mulai hidup kembali, itu berarti jalanan udah mulai ceria kembari ! matahari bersinar sepanjang hari, masih tetap ada awan yg meneduhkan dan angin yg menyegarkan. 
Lalu, bagi anak muda kebanyakan, printemps akan menjadi musi putus atau musim jadian ? 

Printemps ! waktu yang pas untuk berbunga-bunga.Termasuk untuk urusan cinta. Banyak diantara mereka yang memutuskan untuk jadian di bulan-bulan ini. Kenapa ? Karna selain bulan yg indah.. bulan-bulan ini juga bulan yg menyambut libur panjang. Liburan jomblo ? hem.. kayaknya bukan pilihan yg baik. 

Lantas.. entah kenapa, entah ini ada hubungannya sama printemps yang biasa di kenal dengan "sesuatu yg baru" atau tidak, yg pasti banyak lingkungan sekitarku yang akhirnya memanfaatkan waktu yang cantik ini dengan menjadikan sesuatu yg masih abu-abu menjadi lebih jelas. Contoh simplenya.. jadian. Contoh ruwetnya.. naik kepelaminan. 

Karna faktanya, beberapa bulan terakhir ada banyak banget temen di sekitar yang posting foto jadian, foto tunangan, sampai foto undangan dan resepsi pernikahan ! berbahagialah mereka. 
Salah satu contoh yang manarik untuk di simak adalah kisah cinta "mas botak". Yah.. akhirnyaa setelah PDKT hampir 1 tahun, mas botak jadian juga sama si honey. Akhirnya :" 
Mereka ketemu disalah satu acara PPI di kota Eropa timur, hampir satu tahun pdkt dengan status LDR (pdkt aja udah ldr :") akhirnyaaaa mereka resmi juga !! huyeeeee... 
Tau cerita mereka itu berasa lagi nonton FTV yg selalu happy ending walaupun perjalanannya lika liku banget. 

Next.. selain musim bercinta, printemps yg juga menjadi musim pembaruan mengindikasikan sesuatu yang baru. Baru tak melulu bagus kan ? cerita baru yg menyedihkan juga hadir mengelilingi printemps ! salah satunya dengan kata "berpisah". 

Beberapa temen dan temen deket belakangan ini bercerita tentang kisahnya yang kandas di tengah jalan setelah berkelana selana 1, 2, 3, 4, bahkan ada yang hampit 5 tahun ! 
Salah satu dianatara mereka ada mang ujang. Mang ujang salah satu temen deket yg suka cerita kalau ada kabar-kabar baru di kota. Dan kabar terbaru justru datang dari dirinya sendiri. Perjalanan cintanya kandas juga beberapa minggu yang lalu. lebih dari 365 hari mereka lalui bersama ternyata harus berakhir menjadi sebuah sejarah. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu..

Selanjutnya.. cerita mas petani. Yah anggap saja nama nya seperti itu, karna ia banar-benar suka bertani. Mas tani akhirnya juga mengakhiri kisah cintanya. Ups, maksudnya pacar mas tani yang memilih untuk mengakhirinya. Hampir 365 hari kali 5 mereka habiskan bersama, lagi-lagi masih cerita 'hubungan jarak jauhhhhhhh'. Sempet gak nyangka sih liat beberapa postingan mas tani dengan pacar baru dan, mantan mas tani yang sekarang udah punya pacar baru juga. Ya... kalau yg ini jadinya kompilasi ya. Abis selesai, merajut kembali :) 
Sedikit banyak, kebetulan tau cerita perjuangan mas tani dan si mbak mantan. Mbak mantan kuat dan setia banget, walau kini mbak mantan akhirnya menyerah juga dengan keadaan. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu (lagi).

Selain mas tani yang sempat bersedih hati di printemps, ada lagi cerita berpisah dari salah satu teman berambut tidak hitam. Ini cerita tentang mas bule dan mbak bule. Mas bule sepertinya pernah ada dalam ceritaku beberapa waktu lalu. Ya mungkin tidak di blog ini, mungkin di blog yg lama. Tapi yang pasti.. Mas bule juga sempat mengisi hari-hariku (duh jadi malu :$). 

Gak sengaja malem ini ngeliat postingan mbak bule dengan sesosok yang tidak aku kenal. Hemm sepertinya mencurigakan. Dan ternyata curigaku beralasan. Mbak bule tidak lagi menjalin hubungan dengan mas bule. Oh ya? sejak kapan? kok bisa ? hemmm.. banyak sekali tanda tanya yang kemudian tumbuh, dan tanda tanya itulah yang menggerakan rasa ingin tahu ini menjadi sebuah tindakan mencari fakta lebih dalam.. yaahh kalian tahu lah pasti maksudnya :D 
Dan ternyata benar sekali ! perjalanan mas dan mbak bule yang aku rasa sudah lebih dari 3 tahun harus berakhir juga. 

Aku ingat jelas bagaimana bahagia melihat mereka bahagia bersama di kelas :" bahagimana mereka saling membantu dan menyemangati saat ujian terberat kita. Ah... ikhlas rasanya jika melihat mereka berdua sebahagia dulu. 

Lalu ? 
Lalu... aku mengambil kesimpulan. 
Waktu tak akan menjadi sebuah garansi kamu akan berakhir dengan siapa. 
Mungkin saja dia yang sekarang amat berjasa untukmu di waktu ini. Bersamanya kamu belajar banyak, bersamanya kamu belajar berbagi banyak hal, dan bersamanya kamu tumbuh dewasa. Tapi itu tidak sama sekali menjadi sebuah garansi bahwa bersamanya pula kamu akan memetik hasil. Tak ada yang tahu, pada siapa akhirnya kamu menghabiskan waktu hidupmu. 

Setelah ini, kamu yang sedang berbahagia mungkin saja akan merasakan patah hati pada waktunya nanti. Jika iya, nikmatilah patah hati ini. Rasakan pelajaran yang teramat kuat di setiap rasa sakit yang kau hadapi. Jadikan patah hati sebagai tempamu menempa mental dan pembelajaran buat dermaga lain yang akan kau singahi. 

Dan utuk kamu yang sedang dalam masa kelam dan pahit. Tenang, anggap kamu sedang di masa "detox". Racun jahat di pikiran dan hidupmu sedang di buang. Semangatmu sedang di bangkitkan lagi. Akan ada printemps yang indah untuk kalian yang telah menyiapkan bibit tulip sejak lama. 

Dan untukumu yang tak ingin mengenal keduanya... 
maksudku, kamu yang ingin langsung melamar.. 
alamat ku di jalan kebun bunga, nomer.... 
oh maaf aku keceplosan :) hahaha.. 

Sekali lagi.. selamat menyambut musim semi ! menyambut hidup baru ! yeyey



Hah. Kau lagi ?!

Sebelum kenangan ini benar-benar pudar karna waktu, maka ku haruskan kisah ini untuk singgah dan tertulis rapi di sini. Agar kelak dapat ku baca kembali dan berterima kasih untuk pelajaran yang pernah kau berikan. 

"Berkah yang melimpah". Ingat kah kau dengan kata kunci itu ? yah, ceritanya pernah ku tuliskan beberapa waktu yang lalu. Mungkin tidak di halaman ini, tapi aku pastikan ceritanya masi tetap tersusun rapi. Beberapa hari lagi genap menjadi 2 tahun. 2 tahun awal cerita ini pernah ada. Memang belum genap 365 hari kali dua, dan di tambah 1 karna ada tahun kabisat. Namun, ketidak genapan ini justru menghantarkan kami pada sebuah cerita yang serupa. Serupa tapi tak sama. 

                          ***

Sakit perut yang bukan sebuah penyakit, sudah datang sejak pagi itu. Jika membandingkannya dengan 2 tahun yang lalu, lucu memang. Waktu itu, aku harus terburu-buru meninggalkan rumah karna waktu yang kita tentukan sebentar lagi tiba. Aku sedikit terlambat, di stasiun kreta yang kita janjikan. Tapi sekarang, rasanya energiku habis terkuras. Membayangkan seperti apa kau sekarang.

Beberapa hari sebelumnya, aku juga menempuh perjalanan yang sama. Sama jauh nya seperti yang dulu pernah kita tempuh. Tapi disela-sela perjalanan itu, ada kau yang menyelinap dalam pikiran. Ah, seperti cerita dalam sebuah kaset, cerita itu berputar sendiri. 

"Klekkkk" bunyi pintu aula itu ku buka. 
Ku lemparkan pandangan jauh kedepan, ku sapu dari setiap ujuang aula. Ternyata mataku benar-benar sudah rabun ! Tak bisa melihat dengan jelas mereka satu-satu. Tapi, postur tubuh mu yang berbeda membuat kau gampang dikenali. Ah kau lagi! di tempat yang sama.

Sebuah tos kecil mendarat mulus pagi itu. Sebuah percakapan singkat keluar begitu saja. Kalimat pembuka yang aku harap akan menjadi awal yang baik. Eh sebentar, senyumu tampak berbeda. Ada yang mengganjal di permukaan. Oh, kawat gigi itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.

Dan masih sama seperti dua tahun sebelumnya. Aku yang tak punya modal banyak hanya bisa melihat kau bertanding dari kejauhan, layaknya melihat idola. Selalu ku sempatkan melihat mu di setiap pertandingan, walau mataku sudah rabun, tapi nomer punggung mu yang berubah itu masih tetap dapat ku lihat. Kau masih tetap sama. Menawan. Bahkan lebih dari yang ku bayangkan. 

Kau lagi ! 
Rasanya aku harus berterima kasih untukmu. Aku juga tak tahu pasti untuk apa, tapi yang pasti bisa bertemu denganmu lagi memang sebuah hal yang tak ku bayangkan sebelumnya. Pembicaraan yang menjadi candu.


Kau yang masih menawan. Dan kini sudah lamaran. 
Terima kasih untuk yang kesekian.