Single ?

"Punya banyak temen, punya banyak temen cowok, kok masih sendiri ?"
Kalimat itu bukanlah kalimat pertama yang aku dengar, dan aku yakin tidak akan berhenti pada hari ini. Kalimat lampau. Dan aku pun bosan menjawabnya.

Apa menjadi sebuah keharusan, wanita seumuranku harus sudah memiliki pacar ? gandengan ? gebetan ? tunangan ? atau apalah itu..
Bagaimana jika ini memang pilihanku. Apa salah memilih untuk sendiri dan tidak menceburkan diri pada masalahan yang akan berputar tak ada hentinya ?

Well..
Mungkin banyak perempuan cantik diluar sana yang mengingkinkan memiliki pacar di masa mudanya. Untuk membahagiakan hidup, ujarnya. Tapi jika aku memilih untuk menjadi bahagia bukan karna seseorang, itu bukan menjadi sebuah kesalahan, bukan ?

Terkesan seperti bermimipi memang, hanya diam saja tapi mengharapkan akan datang imam hidupku yang dikirim Allah. Tapi kemudian definisi "diam" harus kau perjelas lagi. Biarkan doa-doa ku pada-Nya yang menjadi saksinya. Karna pacaran bukan menjadi satu-satunya jalan untuk bertemu imam-mi kan ?

Tidak. aku tidak benci jatuh cinta. Aku tidak kapok patah hati. Tapi jika ada pilihan untuk tidak merasakan patah hati lagi, itu pilihan yg baik bukan. Sudah lah, sudah cukup rasanya mengulang fase yang sama. kenal-dekat-nyaman-menyoba serius-ternyata gagal-berakhir-berpisah-luka-sakit dan berulang dari awal lagi. Usaha "mengenal" akan lebih baik ku pergunakan untuk mengenal-Nya. Karna aku yakin, Allah selalu akan memberikan jalan yang baik untuk kita.

Tidak. Jangan kau katakan ini terlalu manafik. Ya, tingkat pengetahuan agamaku memang belum sempurna, aku pun sadar blm melakukan banyak kewajiban, apalagi sunah. Tapi berusaha memenuhi satu-persatu tak apa kan ? Aku tak berusaha untuk menjadi yang paling suci, tapi berusaha menjauhkan diri dari apa yang seharusnya bisa kita jauhi bukan menjadi hal yang salah, bukan ?

Maka... aku harap mereka mengerti.
mengenal, dekat, akrab, tidak harus menjadi aku pacarmu dan kamu pacarku kan ?
mengenal, dekat, akrab, dan kamu menjadi imamku dan aku menjadi ma'mum mu, bukankah lebih baik ?
pilihan kedua memang impian banyak orang, tapi tak ada salahnya jika aku berusaha mengambil jalan yang ke dua.
Maka, kenapa manjadi salah ketika memilih sendiri ?

Pada akhirnya biarkan air mengalir hingga hulu nya..
Dan kau yang diam-diam aku amati, semoga Allah mendengar doaku.

Selamat Menempuh Hidup Baru

Teruntuk untukmu,
Selamat menempuh hidup baru !

Ya.. hidupmu yang bukan lagi dengan status mahasiswa.
Akhirnyaaa waktu yang ditunggu-tunggu datang juga ! Sidang akhir. Dan kamu melewatinya dengan baik. Selamat. Sebentar lagi resmi menggunakan gelar sarjana di belakang namamu. Semoga ilmu mu berkah. Dan sekali lagi selamat !

Maaf aku tak membalas pesan terakhirmu pagi itu, pagi untuk mu dengan pagi buta untukku. Bukan karna apa, tapi aku tahu, balasan pesan dariku tak lagi penting untukmu. Aku tahu kamu tak membutuhkan itu lagi. Bahkan mungkin kamu tak menginginkan untuk bertegur sapa lagi dengan ku. Bukan kah pesat terakhir itu hanya bagian dari formalitas untuk memenuhi janjimu, jika menjelang sidang kamu akan memberitahu ku ?
Yah.. formalitas.
Memberitahu ku hanya beberapa jam sebelum sidang itu dimulai. Untuk apa ?
agar mempersingkat pembicaraan kita ?
...

Tak perlu.

Untuk mu yang pernah aku anggap teman baik ku.
Untuk mu yang pernah aku kira rekan kerja yang baik.
Apa sebutan itu masih layak untukmu ?

Pesan terakhir ku untukmu ku kirim pada tanggal 1, bulan ini.
Lalu tak ada lagi balasan dari mu.
Awalnya aku kira, sibuk mu tak tertahankan
Tapi kamu teralalu aktif di sosial media.
Sampai pada suatu ketika aku membutuhkan informasi lama yang harus aku cari di room chat kita.
Hari itu tanggal 10, tepat sepuluh hari sejak pesan terakhir ku kirimkan.
Lalu yang ku temukan, 3 pesan terakhir itu masih saja belum kau buka. Belum ada tanda "baca" pada ketiganya.
Lalu..
Kemudian aku sadar, mungkin memang kamu tak perlu itu. Dan tak menginginkannya.

Alasan apa lagi yang akan kamu gunakan ? Dalam sepuluh hari masih saja kamu tak menyentuh sosial media itu ? mimpi. Alasanmu terlalu klasik :)

Lalu tepat pagi ini, ketika pesan dari mu masuk. Mengabarkan hari ini akan menjadi hari penentuan akhir perjuanganmu.
Dan ketiga pesan yang sudah lama tak memberikan tanda "baca" itu akhirnya terbuka juga.

Jadi ?
Kamu sengaja tak membukanya berhari-hari ?
atau sengaja kau hilangkan percakapan kita dari room chat itu ?
Terima kasih :) Kamu memang teman yang baik :) Baik untuk ditinggalkan mungkin.

Ya, mungkin ini ke kanak-kanakan.
Tidak dibalas chatnya... kemudian marah.
Tidak, hal ini tak sesederhana yang kamu kira.

Memang, hak semua orang untuk membalas pesan mana yang akan ia tanggapi. Hak semua orang untuk memperlakukan sosial medianya. Tapi, aku akan lebih menghargaimu ketika kamu hanya membacanya, walau tak kamu balas kembali. Atau aku akan lebih senang jika kamu katakan saja bahwa tak ada lagi yang perlu di sampaikan. Lalu kita bisa mengakhiri percakapan dengan baik.
Bukan kah kamu selalu mengakhiri percakapan orang-orang yang tak kau inginkan dengan cara baik-baik ?
Lalu kenapa untuk ku kamu berikan hal yang sangat mengagetkan ?

Untuk mu, orang yang pernah ku percayai banyak hal,
ini kekecewaanku yang terdalam.
omong kosong dengan katamu yang akan selalu jadi teman ku ?
Rasanya.. pertemanan yang baik tidak di dasari atas hal ini.

Untuk mu,
tidak aku tidak akan marah lagi. Untuk apa ?

Maaf jika aku tak langsung memberikan ucapan selamat langsung untukmu. Sudah tahu kan alasannya ? Aku menghargai keputusanmu untuk tidak melakukan percakapan denganku. Jadi, inilah bentuk dari pengabulan harapanmu.

Awalnya, ku kirimkan seikat bunga putih dan biru ini untuk merayakan hari bahagiamu. Bahagiamu.
Sudah kutitipkan pada jasa pengantar barang itu. Tapi beliau berkata bahwa kau tak lagi di rumah, dan tak ada satupun orang di rumahmu. Kemudian, ia titipkan pada pagar yang berdiri kokoh di depan rumahmu.
Aku berdoa sepanjang hari agar hujan tak lagi turun, sehingga membasahinya.
Aku pun sempat berdoa, agar tak ada orang iseng yang mengangkutnya. Atau.. semoga bapak pengatra jasa itu tidak salah alamat. Tapi doa ku tak kunjung terjawab.
Ketika aku menulis ini, malam sudah datang di tempatku, hampir saja buka puasa. Lalu, apa kabar dengan dia yang tergantung di pagar ? 
Apakah kamu sudah terima itu ?
Atau justru sampai kau membaca ini suatu saat nanti, masih kau belum terima ? 

Jika kamu sudah menerimanya, terima lah dengan baik-baik.
Jika belum, cukuplah kamu tahu bahwa pernah ada niat baik dari ku. Jika akhirnya kamu tak menemukannya, mungkin memang bukan saatnya. Waktu saja tak mengizinkannya :) Setidaknya kamu bisa melihat bentuknya dari foto ini.

Sekali lagi,
kamu yang pernah aku anggap teman baik,
Selamat menempuh hidup baru !
Semoga hidupmu akan lebih bahagia.



Salam,
orang yang pernah kau sebut sahabat

Empat kali empat, enam belas

Satu kali empat, empat
Dua kali emapat, delapan
Tiga kali empat, dua belas
Empat kali empat, enam belas !

Tidak, kita tidak sedang akan belajar berhitung. Hanya saja aku sedang menimang-nimang angka empat.

Empat kali merasakan tahun baru di tanah eropa
Empat kali merasakan ulang tahun jauh dari keluarga
Empat kali merasakan dinginnya negeri ini
Empat kali melewati tanggal 20 Mei !

Entah harus senang atau sedih dengan angka yang sudah aku peroleh saat ini.
Besyukur, pasti. 4 tahun yang luar biasa, bahkan jauh dari tanah air, tak perlu kau ragukan lagi.

Ada banyak tempat yang dulu ak kira hanya akan berakhir menjadi mimpi belaka.
Ada banyak kota yang aku kira itu hanya ada di peta
Dan ada banya tokoh penting yang aku idolakan, yang tadinya aku kira hanya hidup dalam layar kaca.
Kini, sebagian mimpi ini benar-benar aku temui. Jalur-jalur yang ada di peta itu, benar-benar aku singgahi. Dan mereka yang ada dalam layar kaca, benar-benar aku salami.

Terima Kasih Ya Allah, atas berkat dan Rahmatmu selama ini.
Maaf jika aku masih belum menjadi pribadi yang baik seutuhnya.
Untuk ribuan hari yang sudah aku lewati di Prancis.

Aku masih tak tahu, apakan akan ada 20 Mei selanjutnya, atau ini 20 Mei terakhir untuk chapter ini.
Kalaupun akan berakhir, aku harap akan ada 20 Mei versi berikutnya, yang akan aku kenang.

20 Mei.
Hari pertama dimana kaki ini banar-benar menyentuhnya
Hari pertama dimana mimpi-mimpiku hidup kembali
Hari pertama dimana hidupku, ku mulai kembali

Sekali lagi, selamat melewati 20 Mei yang ke empat kalinya !




Printemps ! musim putus atau musim jadian ?

BIENVENUE PRINTEMPS ! 
Selamat datang musim semi !


Musim semi identik dengan musim yang paling di tunggu-tunggu banyak orang.  Mahasiswa di negara Jepang biasanya akan sangat menantikan musim ini, karna di musim semi lah awal ajaran baru sekolah dan kuliah di mulai. Di Prancis sendiri musim semi menjadi waktu yang di tunggu-tunggu. Selain bunga-bungan dan pepohonan yang mulai hidup kembali, itu berarti jalanan udah mulai ceria kembari ! matahari bersinar sepanjang hari, masih tetap ada awan yg meneduhkan dan angin yg menyegarkan. 
Lalu, bagi anak muda kebanyakan, printemps akan menjadi musi putus atau musim jadian ? 

Printemps ! waktu yang pas untuk berbunga-bunga.Termasuk untuk urusan cinta. Banyak diantara mereka yang memutuskan untuk jadian di bulan-bulan ini. Kenapa ? Karna selain bulan yg indah.. bulan-bulan ini juga bulan yg menyambut libur panjang. Liburan jomblo ? hem.. kayaknya bukan pilihan yg baik. 

Lantas.. entah kenapa, entah ini ada hubungannya sama printemps yang biasa di kenal dengan "sesuatu yg baru" atau tidak, yg pasti banyak lingkungan sekitarku yang akhirnya memanfaatkan waktu yang cantik ini dengan menjadikan sesuatu yg masih abu-abu menjadi lebih jelas. Contoh simplenya.. jadian. Contoh ruwetnya.. naik kepelaminan. 

Karna faktanya, beberapa bulan terakhir ada banyak banget temen di sekitar yang posting foto jadian, foto tunangan, sampai foto undangan dan resepsi pernikahan ! berbahagialah mereka. 
Salah satu contoh yang manarik untuk di simak adalah kisah cinta "mas botak". Yah.. akhirnyaa setelah PDKT hampir 1 tahun, mas botak jadian juga sama si honey. Akhirnya :" 
Mereka ketemu disalah satu acara PPI di kota Eropa timur, hampir satu tahun pdkt dengan status LDR (pdkt aja udah ldr :") akhirnyaaaa mereka resmi juga !! huyeeeee... 
Tau cerita mereka itu berasa lagi nonton FTV yg selalu happy ending walaupun perjalanannya lika liku banget. 

Next.. selain musim bercinta, printemps yg juga menjadi musim pembaruan mengindikasikan sesuatu yang baru. Baru tak melulu bagus kan ? cerita baru yg menyedihkan juga hadir mengelilingi printemps ! salah satunya dengan kata "berpisah". 

Beberapa temen dan temen deket belakangan ini bercerita tentang kisahnya yang kandas di tengah jalan setelah berkelana selana 1, 2, 3, 4, bahkan ada yang hampit 5 tahun ! 
Salah satu dianatara mereka ada mang ujang. Mang ujang salah satu temen deket yg suka cerita kalau ada kabar-kabar baru di kota. Dan kabar terbaru justru datang dari dirinya sendiri. Perjalanan cintanya kandas juga beberapa minggu yang lalu. lebih dari 365 hari mereka lalui bersama ternyata harus berakhir menjadi sebuah sejarah. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu..

Selanjutnya.. cerita mas petani. Yah anggap saja nama nya seperti itu, karna ia banar-benar suka bertani. Mas tani akhirnya juga mengakhiri kisah cintanya. Ups, maksudnya pacar mas tani yang memilih untuk mengakhirinya. Hampir 365 hari kali 5 mereka habiskan bersama, lagi-lagi masih cerita 'hubungan jarak jauhhhhhhh'. Sempet gak nyangka sih liat beberapa postingan mas tani dengan pacar baru dan, mantan mas tani yang sekarang udah punya pacar baru juga. Ya... kalau yg ini jadinya kompilasi ya. Abis selesai, merajut kembali :) 
Sedikit banyak, kebetulan tau cerita perjuangan mas tani dan si mbak mantan. Mbak mantan kuat dan setia banget, walau kini mbak mantan akhirnya menyerah juga dengan keadaan. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu (lagi).

Selain mas tani yang sempat bersedih hati di printemps, ada lagi cerita berpisah dari salah satu teman berambut tidak hitam. Ini cerita tentang mas bule dan mbak bule. Mas bule sepertinya pernah ada dalam ceritaku beberapa waktu lalu. Ya mungkin tidak di blog ini, mungkin di blog yg lama. Tapi yang pasti.. Mas bule juga sempat mengisi hari-hariku (duh jadi malu :$). 

Gak sengaja malem ini ngeliat postingan mbak bule dengan sesosok yang tidak aku kenal. Hemm sepertinya mencurigakan. Dan ternyata curigaku beralasan. Mbak bule tidak lagi menjalin hubungan dengan mas bule. Oh ya? sejak kapan? kok bisa ? hemmm.. banyak sekali tanda tanya yang kemudian tumbuh, dan tanda tanya itulah yang menggerakan rasa ingin tahu ini menjadi sebuah tindakan mencari fakta lebih dalam.. yaahh kalian tahu lah pasti maksudnya :D 
Dan ternyata benar sekali ! perjalanan mas dan mbak bule yang aku rasa sudah lebih dari 3 tahun harus berakhir juga. 

Aku ingat jelas bagaimana bahagia melihat mereka bahagia bersama di kelas :" bahagimana mereka saling membantu dan menyemangati saat ujian terberat kita. Ah... ikhlas rasanya jika melihat mereka berdua sebahagia dulu. 

Lalu ? 
Lalu... aku mengambil kesimpulan. 
Waktu tak akan menjadi sebuah garansi kamu akan berakhir dengan siapa. 
Mungkin saja dia yang sekarang amat berjasa untukmu di waktu ini. Bersamanya kamu belajar banyak, bersamanya kamu belajar berbagi banyak hal, dan bersamanya kamu tumbuh dewasa. Tapi itu tidak sama sekali menjadi sebuah garansi bahwa bersamanya pula kamu akan memetik hasil. Tak ada yang tahu, pada siapa akhirnya kamu menghabiskan waktu hidupmu. 

Setelah ini, kamu yang sedang berbahagia mungkin saja akan merasakan patah hati pada waktunya nanti. Jika iya, nikmatilah patah hati ini. Rasakan pelajaran yang teramat kuat di setiap rasa sakit yang kau hadapi. Jadikan patah hati sebagai tempamu menempa mental dan pembelajaran buat dermaga lain yang akan kau singahi. 

Dan utuk kamu yang sedang dalam masa kelam dan pahit. Tenang, anggap kamu sedang di masa "detox". Racun jahat di pikiran dan hidupmu sedang di buang. Semangatmu sedang di bangkitkan lagi. Akan ada printemps yang indah untuk kalian yang telah menyiapkan bibit tulip sejak lama. 

Dan untukumu yang tak ingin mengenal keduanya... 
maksudku, kamu yang ingin langsung melamar.. 
alamat ku di jalan kebun bunga, nomer.... 
oh maaf aku keceplosan :) hahaha.. 

Sekali lagi.. selamat menyambut musim semi ! menyambut hidup baru ! yeyey



Hah. Kau lagi ?!

Sebelum kenangan ini benar-benar pudar karna waktu, maka ku haruskan kisah ini untuk singgah dan tertulis rapi di sini. Agar kelak dapat ku baca kembali dan berterima kasih untuk pelajaran yang pernah kau berikan. 

"Berkah yang melimpah". Ingat kah kau dengan kata kunci itu ? yah, ceritanya pernah ku tuliskan beberapa waktu yang lalu. Mungkin tidak di halaman ini, tapi aku pastikan ceritanya masi tetap tersusun rapi. Beberapa hari lagi genap menjadi 2 tahun. 2 tahun awal cerita ini pernah ada. Memang belum genap 365 hari kali dua, dan di tambah 1 karna ada tahun kabisat. Namun, ketidak genapan ini justru menghantarkan kami pada sebuah cerita yang serupa. Serupa tapi tak sama. 

                          ***

Sakit perut yang bukan sebuah penyakit, sudah datang sejak pagi itu. Jika membandingkannya dengan 2 tahun yang lalu, lucu memang. Waktu itu, aku harus terburu-buru meninggalkan rumah karna waktu yang kita tentukan sebentar lagi tiba. Aku sedikit terlambat, di stasiun kreta yang kita janjikan. Tapi sekarang, rasanya energiku habis terkuras. Membayangkan seperti apa kau sekarang.

Beberapa hari sebelumnya, aku juga menempuh perjalanan yang sama. Sama jauh nya seperti yang dulu pernah kita tempuh. Tapi disela-sela perjalanan itu, ada kau yang menyelinap dalam pikiran. Ah, seperti cerita dalam sebuah kaset, cerita itu berputar sendiri. 

"Klekkkk" bunyi pintu aula itu ku buka. 
Ku lemparkan pandangan jauh kedepan, ku sapu dari setiap ujuang aula. Ternyata mataku benar-benar sudah rabun ! Tak bisa melihat dengan jelas mereka satu-satu. Tapi, postur tubuh mu yang berbeda membuat kau gampang dikenali. Ah kau lagi! di tempat yang sama.

Sebuah tos kecil mendarat mulus pagi itu. Sebuah percakapan singkat keluar begitu saja. Kalimat pembuka yang aku harap akan menjadi awal yang baik. Eh sebentar, senyumu tampak berbeda. Ada yang mengganjal di permukaan. Oh, kawat gigi itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.

Dan masih sama seperti dua tahun sebelumnya. Aku yang tak punya modal banyak hanya bisa melihat kau bertanding dari kejauhan, layaknya melihat idola. Selalu ku sempatkan melihat mu di setiap pertandingan, walau mataku sudah rabun, tapi nomer punggung mu yang berubah itu masih tetap dapat ku lihat. Kau masih tetap sama. Menawan. Bahkan lebih dari yang ku bayangkan. 

Kau lagi ! 
Rasanya aku harus berterima kasih untukmu. Aku juga tak tahu pasti untuk apa, tapi yang pasti bisa bertemu denganmu lagi memang sebuah hal yang tak ku bayangkan sebelumnya. Pembicaraan yang menjadi candu.


Kau yang masih menawan. Dan kini sudah lamaran. 
Terima kasih untuk yang kesekian. 



Trocadero

Ku tulis ini dalam sebuat kereta tua yang membawa ku ke sesuatu tempat di ujung kota.
Entah aku tak bisa menemukan jenis tulisan ini. Sajak kah, artikel kah, atau hanya bulir kata kata yang keluar tak karuan. Yah, apapun itu, ini limpahan pergulatan hati dan batin yang sejak pagi bergemurug di dada. Puncak dari sakit perut yang tak ada penyebabnya.

Senja yang paling membuat bulu kudu ku berdiri. Bukan, bukan karna semburan cahaya orange nya yang menggunjang hati, tapi karna sore ini nyaliku sedang di uji.

Tepat 365 hari yang lalu, aku pun menempuh perjalanan yang sama. Sama tapi tak serupa.
Di jam yang sama, mungkin hanya beda menit, aku juga berada di kreta ini. Dengan hati yang paling bahagia mungkin. Dengan rasa kemenangan karna sukses membuat sekenario terbaik untuk tahun ini. Dengan rangkaian kejutan yang aku persiapkan jauh jauh hari, aku yakin sore itu akan terbayar tutas, lunas dan puas.

Tapi tidak dengan tahun ini.
Tidak dengan hari ini.

Sejak pagi menyambut, terkadang ego ini masih saja membujuku untuk tetap tinggal hingga malam. Tak beranjak dari rumah, apapun alasannya. Tidak juga perlu membuat rangkaian kejutan. Cukuplah dengan ucapan sederhana.

Tapi, hati juga masih saja membujuk untuk tetap pergi. Memberikan ucapan dengan cara baik-baik. Memperlakukan layaknya aku memperlakukan manusia manusia baik sebelumnya.

Takut.
Yah mungkin kata itu yg bisa aku pinjam untuk menggambarkan bagaimana benang benang berkeliaran di hati dan pikiran ini.

Takut jika hal ini  tak sepantasnya aku lakukan.
Takut jika ia tak mengindahkan maksud baikku.
Takut jika suaraku tak sampai kepadanya. Bukan karna ia terlelap, tapi karna ia tak mau mendengarnya.
Takut jika hal ini bukan yg di inginkannya.
Takut jika pada akhirnya aku tahu, ini lah pernyataan tak tertulis, bahwa persahabatan ini memang hanya tinggal kenangan.

Persahabatan ?
Yah. Biarkan aku menganggapnya begitu. Karna ini urusan aku.
Bagaimana dia menganggapku, itu urusannya. Biarkan dia yg memilih katanya.

Ah sudah lah, mengetik di layar kecil memang tak selalu baik, apalagi saat-saat seperti ini. Tanganku memproduksi keringat sedang banyak banyaknya. Lagi pula di stasiun depan aku turun.

Oh tuhan..
Rasanya aku tak ingin kereta ini sampai di tujuannya.


Paris, 11 Maret 2016 ; 17:46

Surat Untuk Anjani

Hai Anjani,

Untukmu gadis berkulit jauh lebih putih dari pada kulitku, dan gadis yang tak menyukai tim sepak bola kebanggaanku, tapi untungnya kita masih satu suara jika bertemu dalam piala dunia, si baju orange.
Ini surat pertama yang aku tulis untukmu, yah walaupun sudah pernah kau ku kirimkan sebuah sepeda melalui kertas berlipat dua itu, tapi ini adalah kali pertama aku menulis pesan sepanjang dan sebanyak ini. Aku tak tahu akan kah ini menjadi surat terakhirku pula atau tidak, rasanya iya, entahlah. Tapi berkatmu aku akhirnya menginjakan ke kantor bernuansa orange itu, tempat orang menitipkan cerita, benci dan  rindu pada seonggok kertas tak bersuara.

Anjani yang malang, 
Langsung saja aku pada pokok tujuanku menulis ini. Aku sebenarnya bisa saja menelfon mu, memencet nomormu pada layar ponselku dan langsung berbicara padamu seperti biasanya. Tapi rasa enggan masih saja mencuak dipikiran. Aku malas sekali jika harus mendengar suaramu yang tinggi dan terkadang memekakkan telinga. Terkadang kau pun tak henti-hentinya berkicau bak burung kelaparan. Mungkin dulu memang aku sangat menyukainnya, tapi kini aku rasa aku tak membutuhkannya lagi. Perhatikan, aku menulisnya dengan kata "mungkin", jadi sebenarnya aku juga tak tahu yang sebenarnya. 

Anjani, kau memang sungguh baik. Mungkin gadis yang terbaik yang aku temui. Wajahmu juga tak buruk-buruk amat, kau pun pintar dan pandai berbicara. Sering kali leluconmu membuat percakapan kita terasa hidup. Tapi Anjani, itu saja tak cukup, atau mungkin berlebih ? entah lah.  Yang pasti aku ingin sekali mengatakan maaf padamu. Entah ini patut atau tidak, tapi sebaiknya aku jelaskan  saja, biar nanti bapak pengantar surat itu yang mengantarnya. 

Ingatkah senja yang kita temui saat itu Anjani ? Yah senja yang kita pandangi bersama. Aku di bukit berbatu dipinggir pantai itu, dan kau dibukit yang lainnya. Iya aku tahu, kita memang tidak di tempat yang sama, tapi kala itu akhirnya kita bisa memandang langit yang sama, senja yang sama, awan yang sama, bahkan mungkin angin yang lewat di depanku juga angin yang datang mengibas rambutmu. Rasanya senang bukan kepalang, tak ku sangka kita bisa memandangi senjamu dan kamu melihat matahariku, dengan warna kemerah-merahan yang identik. Tak seperti biasanya kita menikmati mataharimu-bulanku, bintangku-suryamu. 

Apakah kau juga ingat malam bulan purnama itu ? Yah! kau yang duduk tepat dibelakangku. Kurasa kau melihatnya. Karna diam-diam aku mengintip dari kaca sepion. Kau menengadahkan kepaamu ke atas, rambutmu yang mencuat dari sela-sela helm, terbang diterpa angin yang mungkin sempat berjumpa dengan purnama. Itu hal terbaik yang aku temukan tahun ini. 

Anjani yang tegar, 
Belum sudah aku menguraikan kata maafku, tapi memang aku tak sanggup mengatakannya sekarang. Jadi biarkan aku mengatakan terimakasih padamu terlebih dauhulu. Kau ingat Anjani, saat tumpukan pekerjaan dan tugas itu mencekik leherku? Yah itu rasanya aku akan mati jika kau tak cepat-cepat datang. Manalah aku paham bagaimana merangkai kata ilmiah, jika pernah membacanya pun tidak. Aku tahu kau membantuku sebaik mungkin, aku juga tahu jika kau bahkan belum terpejam saat tanggal deadline itu datang. Yah, yah, aku yang malah sempat tertidur dan kau yang meneruskannya. Tapi sungguh Anjani, mataku tak kuat lagi, bukan karna aku enggan. Dan lagi-lagi kau menjadi penolongku. 

Anjani yang baik, 
Terima kasih karna hampir disetip pagi kau membangunkanku. Walau sebenanrnya aku masih ingin melanjutkan berselancar di dalam mimpi. Tapi suara telfonku yang nyaring mmebuat kupingku gatal. Ditambah lagi kau yang suka memekik agar aku cepat tersadar dari kantuk. Yah itu menyebalkan, tapi aku bersyukur mengenalmu. Tapi Anjani, sadar kah kau, jika kantukku itu juga karna mu. Yah, bagaimana tidak, aku baru bisa tidur setidaknya 1 jam setelah tengah malam, bahkan lewat sepertiga malam. Kalau saja aku sudah tidur sebelumnya, aku pasti bisa sekalian ibadah malam. Seringkali aku terkantuk-kantuk menunggumu tiba di rumah. 

Ah alangkah panjangnya surat ini jika harus aku tuliskan kata terimakasih untuk setiap waktumu. Maka aku persingkat saja, karna tanganku sudah mulai pegal-pegal. 
Tapi yang pasti, termakasih yang sebesar-besarnya karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan dia, dan kau memberikan waktu yang pas untuk kami saling mengenal. 

Anjani, 
Sekarang kau tak perlu lagi menahan kantuk hanya untuk membangunkaku di pagi hari, kau tak perlu lagi berusah payah menjadi guruku, dan sudah aku putuskan kau tak perlu lagi memasang kupingmu lebar-lebar untuk mendengar ceritaku. sebenarnya aku juga sudah lelah padamu. Siapa yang tak lelah jika hidupmu yang nyata terasa seperti hanya khayalan. Aku seperti hidup di dunia maya. Memang mengasyikan, suatu pengalaman yang menarik bisa berinteraksi bersama dengan orang yang nun jauh di sana. Hal ini jika tak pernah aku bayangkan, bahkan tak pernah aku tahu jika bisa berlangsung tidak hanya dalam hitungan minggu. 

Ah sudahlah Anjani, yang pasti sekarang aku ingin bebas. Yah, kau memang tak pernah mengurungku, tapi aku tak menemukan kata lain yang lebih elok, jadi kupinjam saja kata bebas itu. Pokoknya kini aku sudah jauh lebih bahagia. Jadi mohon jangan mengusik apa yang sedang aku susun ini. Kau mengerti kan kata bahagia ? Aku kini jauh lebih bahagia, Anjani. Manusia mana yang tak bahagia jika waktu tidurnya kembali normal. Kini aku bisa tidur setidaknya 8 jam perhari. Kini sebelum tengah malam aku sudah bisa tertidur pulas ditemani suaranya orang disebrang sana yang sama-sama tertidur. Elok bukan ? 

Kini aku pun tak lagi pergi sendiri. Tempat duduk disamping pengemudi kini sudah terisi sosok nyata nan cantik. Tak seperti dulu, kursi sebelahku kosong, yang ada hanya wajahmu yang terkurung dalam layar ponsel. Tak ada tangan yang membantuku merogoh uang receh dari dashboard. Walaupun itu menyenangkan, tapi kini jauh lebih menyenangkan. Aku juga sudah punya penasihat sendiri, yang bisa langsung memutuskan warna atau barang mana yang harus aku ambil saat membeli sesuatu. Aku tak perlu lagi susah-susah mengambil gambar dan mengirimkannya padamu, lalu harus menunggu kau membalas, lalu kita berdiskusi panjang... ah lama sekali prosesnya. Kini semua jauh lebih cepat Anjani. Oh ya satu lagi, perjalana panjang ke kampusku pun kini bukan masalah berat dan tak lagi membosankan. Sudah ada manusia nyata yang duduk disampingku, bercerita, bercanda, lalu tertidur di bahu. Perjalanan yang panas terasa jauh lebih sejuk. Semuanya tak lagi membuatku pusing karna perjalanan yang panjang. Ditambah bermain ponsel di dalam bus serasa bermain roller coaster, mual.  Oh astaga, aku hampir lupa. Tugasku pun kini jauh lebih ringan, bukan karna dia lebih pintar darimu, tapi karna dia duduk tepat di kursi sebelahku. 

Anjani, tanganku sudah benar-benar mati rasa, tak sanggup lagi aku menulis. Jadi izinkan aku mengakhiri ini dengan kata terima kasih, karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan hidupku yang lebih baik. Ini semua juga berkatmu. Dan maaf jika aku tak lagi bisa menemani hari-hari mu, karna jujur aku sedang fokus pada hidupku yang bahagia ini, aku ingin benar-benar menikmatinya. Jadi maafkan aku jika ini terasa tak adil di dengar. Pesanku, jangan kau banyak terbuai masa lalu, kenangan yang sudah lewat atau kata-kataku dulu. Kau tahukan aku seorang lelaki, dan harusnya kau sudah paham dengan baik, bagaimana aku. Itu hanya lelucon belaka, hanya kalimat-kalimat yang menghibur agar aku tertawa dan kau bahagia. Jadi sudah, tak usah kau lihat-lihat lagi. 

Sekian saja surat dariku. 
Kau memang indah, Anjani. Tapi yang murni adanya akan selalu aku perjuangkan. 

Salam cinta dan kasih.
Teman hari-harimu, 
Teman baikmu,

-Tri Rahmadi-