Kata Selamat pada Selamat Tinggal

"Akan selalu ada kata selamat
Dalam setiap kata selamat tinggal" 

Ya, itu dua baris lagu yang baru ku temukan mungkin minggu lalu. 
Tepat disaat aku harus menyelesaikan tugas lari, di kilometer kilometer terakhir, tiba-tiba lagu ini muncul random pada playlist yang sedang ku putar. 
Bait per bait ku dengarkan dengan baik.
Mendadak dada sesak. 
Bukan cuma sesak karena berlari. 
Tapi sesak karena lagu ini, mencampur adukan hal-hal yang pernah terjadi. 

Bukan kepada siapa. 
Tapi mungkin lebih kepada Dia atau Mereka. 
Ya, mereka yang akhirnya menemukan setelah mungkin pernah diposisi ku saat ini. 

Semalam, aku bertemu dengan orang dari masa lalu. 
Tidak.. tidak.. bukan hadir untuk mengetuk pintu. 
Hanya menyapa ramah pada batasan-batasan yang kini menjadi ada. 

Ternyata bercerita masa lalu dengan orang terdahulu cukup menarik. 
Bukan untuk memperbaiki masa kini. 
Hanya untuk bercerita masa itu, menjelaskan hal-hal yang pernah terjadi dalam dua sisi cerita. 
Banyak hal yang mungkin tak sama dengan persepsi saat itu. 
Banyak tanda tanya yang dulu ada dan terjawab kini.
Lalu untuk apa ? 
Tidak untuk apa-apa. 
Mungkin untuk melakukan hal yang ingin dilakukan ?
atau mungkin untuk membagi rasa bahagia kini dengan menertawakan masa lalu ? 

Cukup terkejut melihatnya lagi di depan mata di tempat itu. 
Banyak yang berubah. Misalnya plat mobilnya yang berubah, tak ada lagi bantal panjang di jok depan, dan dia yang jauh lebih kurus. 
Oh tentu, akupun lebih kurus kini haha. 
Terlihat dengan jelas dia jauh lebih bahagia dari terakhir kami bertemu di tempat cuci mobil haha. 
aku ? lebih bahagia ? oh tentu. atau oh ya seharusnya. 

Dia yang dalam hitungan hari akan mengambil sebuah tanggung jawab besar dalam hidup. 
Dia yang dalam hitungan malam akan menjadi teduh karena keluhnya sudah ada yang menampung. 
Dia yang akhirnya menemukan. 
Dan aku yang masih tetap dalam pencarian. 

Tidak.. tidak.. 
bukan penyesalan. 
Tak ada yang perlu disesali pada akhir yang bahagia kan ?

Breff
Akhirnya aku cukup sadar dan dengan baik merasakan bagaimana berada diposisinya. 
Maaf.
Termasuk memutuskan  berusaha untuk tidak mengetahui kabarnya melalu sosial media. 
Ya.. Aku sudah meng "hide" mu sejak beberapa waktu yang lalu, sebelum percakapan itu ada.
Tidak lama, baru-baru ini sejak makin sering cerita bahagia ditunjukan. 
Aku lelah untuk mengasihani diri. Dan dulu mungkin kamu juga pernah lelah mengasihani diri sendiri. 
Jadi kita satu sama bukan ? haha

Kemudain aku benar-benar semakin paham dengan kalimat "Akan selalu ada kata Selamat pada kata Selamat Tinggal". 
Selamat. 
Tinggal. 

Menyelamati dan meninggalkan hal buruk. 
Dan menyelamati hal baik yang (pasti) akan datang. 

Maka, Selamat ! 

Perjalanan ini akan sangat menarik untuk diceritakan kembali. 
Mungkin akan kutuliskan. 
Dengan alasan yang sama, agar tak lupa jika nanti aku tak lagi bisa menginat.
atau untuk pelajaran ku sendiri, bahwa setelah tinggal, terbitlah selamat, bukan ?



Ada banyak hal yang belum aku ceritakan.
Entah belum atau tidak akan ku ceritakan.

Tapi aku ingin menulis.
Takut jika nanti aku tak lagi bisa mengingat, mungkin tulisan ini yang akan membantuku menyadari bahwa aku pernah sekuat ini.
Bahwa aku pernah melewatinya.
Ku harap dengan baik.

Sesungguhnya aku tak ingin menceritakannya.
terlalu sesak di dada setiap mengingatkannya lagi.
terlalu sedih jika di bayangkan.

Ku kira dia rumah.
Ya, ku kira aku akhirnya menemukan rumahku.
Ku kira saatnya aku kembali pulang.
Ternyata aku salah.
Mungkin dia rumah, tapi bukan untukku.

Tapi aku menjadi mengerti.
Bahwa belajar ikhlas bukan dengan berusaha sekuat tenaga melupakan.
Tapi berusaha menjadi biasa dengan keadaan sekarang.
Ya. Membencinya memang tak akan pernah ada habisnya.
Namun membiarkan terus membencinya hanya akan mengingat-ingat kembali.
Maka aku menemukan formulanya.
Nikamti saja setiap rasanya.

Untuk Mas.
Yang tentu saja tak akan pernah membaca ini,
karena aku tahu, waktumu lebih berharga dari pada menghabiskannya untuk mambaca ini.
Untuk Mas yang pernah kutitipkan semua kata bernama percaya
sebua abstrak bernama harapan.
Ternyata aku salah menitipkan.

Namun,
Berkatmu juga, aku belajar bahwa di dunia ini memang ada orang yang tak selamanya baik-baik saja.




Bersyukur

Kemudian...
aku bercerita padamu lagi, pada halaman kosong dan akhirnya aku menuliskannya kembali.
sempat tak ingin bercerita banyak padamu.
karena yang sudah-sudah, setelah aku becerita padamu.. maka kabar buruk datang.
mungkin tanda tak boleh disombongkan.
maka kali ini, atas nama menjaganya, tak akan ku sombongkan.
dan ternyata salah.
aku juga masih tetap kehilangan.

Teringat pada pintu yang belum terbuka ?
yah tak lama kemudian aku kira sang pencipta telah mengabulkan doa doa panjangku.
menjawab apa yang aku selalu pertanyakan.
dan dengan ringan hati aku meng-iya-kan-nya. ku bukakan pintu akhirnya.
iya untuk menjalaninya dengan sebuah tujuan jelas.
dengan tidak berjalan sendiri dan semauku seperti dulu.
dengan tidak sesukanya pergi dan melarikan diri.
mengiyakan untuk tidak saling menyakiti.

lalu kemudian ku jaga.
seperti aku menjaga diriku sendiri.
memposisikan dia adalah aku.
yang mungkin menginginkan ini dan itu
yang mungkin perlu itu dan ini.
dan menyayangi sesayang aku pada hidupku.

Yakin memang membutuhkan proses.
namun ujar seseorang teman baik ; yakin adalah proses itu sendiri. bukan hasilnya.
seperti kita yakin pada agama dan sang pencipta.
kita meyakini dan menjalaninya.
dan seperti itulah yakin seharunya.

tidak tidak. jalanku tidak sesederhana itu
tidak semulus itu
jangankan kerikil, angin badai pun pernah.
tapi seperti seharusnya kata yakin diucapkan, tak semudah itu goyah.

aku bersyukur akhirnya pernah belajar berkomitmen pada apa yang ak pilih
bersyukur akhirnya ternyata aku tak sepecundang itu
bersyukur ternyata sang pencipta masih menyayangiku.
ditunjukannya tempat beristirahat dari perjalanan singkat namun cukup banyak menguras.

telah memilih untuk pergi.
atas kesalahannya sendiri.
dan aku ?
sudahlah.. aku bisa mengurus diriku sendiri lagi, seperti dulu

hanya saja ternyata jadi diriku sendiri tak mudah

akhirnya pada akhir bab ini pun aku masih tidak diperkenankan untuk lega.
membuka bab baru dengan cerita baru.
lagi lagi di bait akhir, selalu jadi penentu.





Selamat Berjuang

Akhirnya aku disini.
di kota ini.
menentukan pilihanku sendiri.
aku juga masih tak tahu ini pilihan bijak atau sebaliknya.

Aku meninggalkan.
Meninggalkan sebuah janji untuk hari menyemangati.
Tapi aku rasa, tuan cukup sersemangat bersama mereka dan orang-orang itu.
Untuk pertama kalinya, tuan meminta.
untuk datang dan menyemangati.
Dan dipertama kali itu pula, aku mangkir.

pilihan berat Tuan.
ini tentang prioritas.
siapa yang kini menjadi prioritas.

akhirnya aku terbang malam itu.
tepat sehari sebelum harimu.
bahkan sampai detik bait ini ku tulis, aku masih belum tenang.
merasa salah telah mangkir.
namun merasa benar karna telah memperjuangkan.

Maaf Tuan.
Aku yakin kau baik-baik saja.
Aku yakin kau akan terbang ke Negri itu.
Selamat berjuang !

Bait-bait yang terlewatkan (3)

Setelah terlewat sekian lama, bait kesepuluh kuceritakan pula.
Bait dimana manusia-manusia baru datang sili berganti, mencoba untuk tinggal namun masih belum juga kubukakan pintunya.
terutama manusia asing terakhir, yang begitu kuat mencoba membuka pintu, ngucapkan salam, mengetuk hingga menggedor. Banyak kejutan yang justru membuat aku benar-benar terkejut. Maka siapa yang akan berakhir membukanya ? entahlah. tunggulah pada bait selanjutnya. 

Dan selamat datang bait yang kutunggu. tepat di purnama ke sebelas.
Kejutan semakin menjadi-jadi, menghantamku dengan tak ragu-ragu. kejutan baik, dan sebaliknya.
kejutan pertama diawal langkah, kabar berita dia telah mantap untuk mengesahkan apa yang dirasa sudah saatnya.
kejutan selanjutnya datang di pertengahan bait. di hari ke tiga belas. kejutan baik datang menyapa :) lengkapnya akan kuceritakan pada babak lainnya.
Singkatnya, ku tutup bait ke sebelas dengan rasa syukur, atas berkat yang diberikan. Atas kabar yang baik, walau mengejutkan. Dan kututup dengan ikhlas yang baru akan ke pelajari kembali.

Selamat datang bait penutupan. sekaligus penyelesaian.
akhirnya tak ada yang berhasil membuka pintu. mungkin lebih tepatnya tak kubiarkan mereka memasukinnya. Dengan berbagai macam pertimbangan.
Untuk Ibu yang membuka kan pikiran, terima kasih.
Dan untuk mereka yang harus pergi, maaf. lebih baik dari pada terus duduk di depan pintu sampai kapan :)

Entahlah, aku mulai tak bernafsu membagi cerita baitku ini.
mungkin akan ku ceritkan langsung pada setiap langkahnya.
agar nantinya, jika aku tak lagi mampu untuk mengingat, aku masih dapat membacanya. dan percaya bahwa langkah ini pernah ada.


Beginilah bait-bait yang terlewatkan di dalam rangkuman pertama.
aku juga masih tak mengerti masih ada rangkuman berikutnya atau tidak.
ku tulis ini pada pertengahan tahun berikutnya.
Dengan hidup yang baru saja bangkit lagi, dari dasar yang paling dasar.
butuh merangkak dengan kuat untuk dapat sampai ke permukaan.
Dibangkitkan dengan sebuah harapan, aku mencoba mengais apa-apa yang masih tersisa.
sedikit rasa percaya dan secuil kertas putih ditangan.
Maka semoga dengan yang apa adanya ini, akan segera menghasilkan doa yang selama ini ku pinta.

Untukmu yang sedang berjuang, mari kita berjuang bersama :)



Second hero

Ayah.
Yang selalu punya caranya sendiri untuk melakukan apapun.
mengerti apapun
dan menebak apapun

Ayah.
Yang tiba-tiba bisa mengirimkan pesan singkat walau jarak terlalu jauh.
Yang masih tetap menyemangati lewat kata-kata
Yang masih percaya aku istimewa
dan bisa

Ayah.
Sejak pertama bertemu dengan tatapan lembut.
Tak peduli aku berubah dan berevolusi
yang menerima apa adanya

Aku ingat, saat pertama kerumah dengan tampilan yang berubah
dia menegur dengan caranya lembut.
Aku ingat saat aku masih dalam masa perjuangan,
sering kami ia tiba-tiba menyapaku.
Di waktu yang tepat. saat penant memadat.
Mendoakanku dari jauh.

Ayah.
Punya kekuatan untuk mengganti jadwal kepulangan,
hanya untuk menyempatkan bertemu.

Ayah.
Yang akan repot menyiapkan makanan untuk buka puasa bersama
Dengan kesederhanaan yang istimewa

Ayah.
Kemarin malam ku tanyakan hal penting dari nya
dan untuk pertama kalinya, ia berputar putar tanpa jawaban
Mungkin aku tahu, ia tak tega mengatakannya.

Ayah.
Masih sama.
Tak akan rela melihat gadis kecilnya bersedih.

Ayah.
Semoga setelah ini, aku tetap gadis kecilmu
tetap orang yang kau tanya kabarnya.
Dan menyampaikan salam dari mama.
walau kau akan punya gadis kecil lainnya.

Ayah.
Yang bukan Papa.
Tapi mencintaiku dengan sederhana dan apa adanya.

Meja Hijau Pertama

Tuan,
Akhirnya hari yang tak pernah ingin ku alami terjadi juga.
Hari itu, meja hijau pertamaku, dan dia, dan manusia itu.

Tuan,
Untuk pertama kalinya lagi setelah mendung, hujan dan badai pada puluhan purnama, aku melihat manusia itu lagi.
harusnya tak boleh memendam rasa amarah berkelanjutan.
Namun rasanya dadaku memanas, sesak akan udara penat yang tercipta dari sekelilingnya.

terakhir kali aku melihatnya masih menjadi sosok dengan dua kepribadian yang bebeda.
penuh dengan senyum.
walau ternyata itu palsu.
dan ia buas.

Tuan,
Mendekati hari itu, tidurku tak tenang. gelisah sepanjangan.
Aku bingung mendeskripsikannya.
Membaginya pun tak kuasa.
Entah harus kubagi dengan siapa.

Tuan,
Tepat pada malam sebelum pagi itu, perutku mulas sekali.
mulas tanpa sebab, obat pun ku rasa tak akan mempan.
rasanya ingin ku memutar nomor telfon mu lalu memuntahkan semuanya padamu.
Tapi aku ingat, mungkin kau tak terarik lagi dengan masalahku.
atau tak terarik lagi dengan hidupku
dan semua pernak-perniknya.

Tuan,
Menjadikanmu tempat sampahku, tak pernah aku sesali.
Hanya saja, kenapa harus kehilangan
menghilang
hilang
pergi
atau sengaja pergi
Tuhan terlalu baik,
padaku ?
atau padamu ?

Tuan,
Tapi pada akhirnya aku memiliki kekuatan shailormoon .
Di pagi yang tak pernah kuharapkan itu.
Aku bisa mengontrol semua emosiku.
ku kerahkan dengan amat sangat baik.
Dan aku berhasil !
buktinya manusia iu tidak berakhir di rumah sakit bukan ?

Tuan,
ternyata aku benar-benar sadar.
Dengan atau tanpamu, pagi akan tetap datang.
hidup akan terus berjalan.
dan aku bisa melewatinya dengan baik. ku harap begitu.
Dan sakit perutku dapat reda tanpa suaramu.

Maka Tuan,
selamat berbahagialah.
dan Manusia itu pula. segera enyahlah dari sekitar kami.
Karenanya, rusak susu sebelanga.

KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA DIA RUMAH KU KIRA DIA RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KAU RUMAH KU KIRA KITA AKAN MENJADI RUMAH. Ternyata bukan.

Rasanya Pulang

Dan agar ingatanku terus ada untuk hari yang baik kala itu, maka akan ku bagi dalam sebuah rentetan baik yang pastinya akan teramat panjang. Andai semua titik baik dapat diceritakan dengan baik, maka   hingga kedai ini berberes untuk menyelesaikan tugas ini pun, bait ini tak akan selesai begitu saja.

Maka nikmatilah setiap waktu yang kau lewati. 

Rasanya pulang memang membahagiakan ternyata. Asalkan kita pulang pada tempat dan waktu yang tepat. Dan satu pesanku yang harus kalian ingat, turunkan ekspektasimu.. maka bahagialah engkau. 

ritme ketiga belas dibait kesebelas akhirnya datang pula. 
Kali ini aku melewatinya di tanah kelahiran. Yah, benar-benar lahir. Karena aku lahir di tanah Jakarta yang padat akan segala kepadatannya. Dan disinilah aku melewatinya. Setelah lebih lama dari bang toyib yang dicari-cari semua orang, akhirnya aku pulang. Menerima dan melewati semuanya dengan sekuat tenaga. Indonesia, yang selalu bersyukur atas tumpah ruahnya.



Malam itu sibuku untuk bersiap tidur. Cukup larut memang, karna malamnya kulewatkan dengan menonton pertunjukan bersama rekan. Teman kecil menjadi yang pertama menyapa, mengucapkan selamat di hari baik, bersama dengan doa-doa baik diikutinya. Terima kasih Almas, manusia insomnia dan gila akan game, gila pula dengan koding dan teman-temannya. 00:06 masih terlalu sore untukmu kan ? 

Entahlah, terlalu mimbingungkan untuk bagian ini. Sesungghunya teman kecilku satu lagi telah menitipkan seonggok benda kecil sejak minggu malam. Maka sebelumnya, kubuka pembungkus ungunya pada menit pertama. Bersini tas pink cantik yang katanya dipersiapkan untuk menemani perjalannku nantinya. Galuh kecil memang seperti ini, memberikan sesuatu yang aku butuhkan tanpa kuminta. Maka Galuh baik, terimalah persembahan dari hati ini :)

Pada barisan kedua, terima kasih untuk teman baru. 00:23 terlalu buruk. Banyak terima kasih untuk Alit, manusia baru yang terasa lama. Tak beremu memang hari itu, walau kita berada ditanah yang sama. Maka begitu saja bait ini untukmu dihari ini. Hari esoknya mungkin akan kuceritakan pada lembar yang lain. Karna lembar ini khusus untuk halaman ketiga belas. Maafkan. Namun terimakasih teramat banyak untuk hari esoknya. Dan hari ini, yang datang menemani saatku tulis cerita kali ini. 

Barisan ketiga... ini muar biasa ! pesan singkat digroup keluarga dari mama sungguh mengharukan. Entah mama ingat berkat siapa, atau mungkin mama sedang ingat pada tahun ini, karena biasanyaaa pada hari baik untuknya saja ia lupa. Ingat beberapa tahun yang lalu ketika kecil masih menjadi bagian dari hidupku, dihari baikku mama justru pergi meninggalkan kota tempatku tinggal saat itu, namum sepucuk surat ditinggalkannya dimeja belajarku. Subuh datang, dan kubaca dengan seksama. Perlahan tapi pasti, sesak didada mulai menjalar... 
Dan seperti yang kuingat isi surat tersebut... aku memang sudah besar kini. Jauh lebih besar dari saat itu. Sama seperti mama, rasanya baru kemarin mama memelukku dengan erat disetiap perjalanan pergi dengan mobil, karna aku pemabuk yang manja. Dan kini, inilah aku. Tak lagi mabuk darat, bahkan aku bersahabat dengan jalanan. Tapi, rasa sayang ini terlalu dalam. Dan akan terus bertumbuh selayaknya anak terkecilmu ini. 

Sayangnya.. ingatanku mulai sangat-sangat memburuk. Setelah baris keempat disiini oleh Nanda, sahabt kecilku sejak belasan tahun yang lalu.. aku tak lagi bisa mengingat selanjutnya. Mungkin kak Shevia si kakak kesayangan, atau mungkin orang lain ? 

Dan pagi masih menghantui, terbangun karna suara bell yang tak kunjung berhenti. Dengan agak tergesa aku berlari ke arah pintu. Dan menemukan Rani di depan pintu dengan hokaido ditangan, tak lupa lilin yang sudah menyala. Gadis iini, terlalu mengejutkan ! karna setahuku ia masih di Semarang! kenapa ada di depan pintu ? 
Dan seminggu ini adalah bagian dari sekenario terbaiknya. Ia beralibi di Semarang, padahal telah selinggu ia di Jakarta. Rani, selamat kamu sukses !


Yah begitulah.... ada banyak barisan yang terisi, 5, 6,7,8,9 dan seterusnya. 
Tak sebanyak jika sosial media memunculkan beritanya memang. Karna semakin besar, bukan sekedar selamat yang aku butuhkan. Tak perlu lagi sebanyak apa orang memberimu rasa selamat karna tidak sengaja, namun... mereka yang mengingatnya dengan baik, mereka yang mengusahakan dengan niat, dan mereka yang memberikan waktumu dengan ikhlas.. itulah hal-hal terbaik di hari baik. 

Tak ku sangka, ini rasanya pulang. dikelilingi semakin banyak orang yang sayang. Dan aku teramat bersyukur, ternyata mereka sayang dengan teramat baik. Terlalu bahagia untukku. 

Kolega kerja terbaik sepanjang masa. 
Tak pernah ada kata menyesal untukku hadir ditengah-tengah mereka yang teramat luar biasa. Yang membagi rasa cintanya dengan teramat baik. Yang menunjukan rasa sayangnya teramat putih. 

Untuk kak Shevia... 
Kakak terbaik sepanjang masa. Selain Kakak dan Mas ku dirumah, Kak Shevia adalah salah satu jenis kakak yang teramat sayang untuk dilewatkan. Maka dengan baiknya, ia ciptakan keinginanku untuk punya kue bahagia berbahan dasar mie goreng. sesuatu yang aku inginkan sejak awal tahun :D 
Dan kejutan terbaik hari ini masih berlanjut. 
Untuk Bos baik, untuk partnert kerja tersayang Mbak Editha, Mama Anisa, si manis Shofa, Mas Ryan, manusia Poubelle Pemi, Princess Arini, dan Mbak cantik Arian, Kakak dewasa Cathrine. Kalian Luar biasa ! 
Teruntuk "Kami yang sayang kamu" ; Editha, Bimo, Sabrina, Shofa, Arini, Pemi dan Helen. Tas hitam yang menjadi buah sayang kalian telah kuterima dengan baik. Dan teramat baik. 
Tar pernah kubayangkan hari itu sebahagia ini. Teramat bahagia. Sungguh.






Selanjutnya, malampun menjelang. 
Ku juga memberikan hadiah untuk hari ini. Sengaja kupilih pertunjukan dihari ini, agar tak terlalu terasa sepi jika akhirnya memang harus kelewati dengan biasa-biasa saja. Maka, pilihan untuk membuat diri sibuk adalah hal terbaik. Maka bersama Giselle, Fikri dan teman Fikri kami memasuki ruang pertunjukan dengan harapan melihat hal yang menghibur untuk malam yang baru saja diguyur berkat.


Dan ku juga telah mengantongi kata selamat dari Fikri dan teman Fikri. bonus dengan kotak kecil bersampul batik yang dititipkannya untuk hati ini. Lebih tepatnya barang itu telah menjadi miliku kini. ternyata berisi CD Sheila on7 yang entah ia masih menemukannya dimana. Terima kasih teman baru ! 

Dan belum genap setengah sekenario pentas itu dimaikan, Kodok menelfonku ditengah acara, "Aku di TIM. Kalau dalam limat menit ga keluar, kami pulang". 
Maka tanpa berfikir panjang, ku putuskan untuk keluar dan mencarinya. Tepat di depan XXI seperti yang kami janjikan. Dari belakang, aku dikagetkan dengan sekotak donat JCO kesukaan. Kodok dan Debby yang entah bagaimana bisa menjadi sangat niat hari itu. 
Dan begitulah mereka menutup hariku dengan teramat baik. 

Usut punya usut.. sejak sore hari Debby memutuskan untuk mengajak kodok menemui ku, setelah percakapan singkat, maka mereka memutuskan untuk menunda pertemuan. Debby sudah diperjalanan kembali ke kosaan saat itu, ketika akhirnya Kodok memutuskan untuk menemuiku juga malam ini. Dan dengan sisa semangat yang masih tersisa.. Debby kembali memutar arah. Berhenti pada halte terdepan dan mengambil jalur sebaliknya. Tak lupa menyempatkan membeli JCO beserta lilin dan korek api. Dan begitulah perjalanan panjang mereka malam itu.




Tuhan... 
Teramat banyak nikmat yang engkau berikan untuk hari itu. Teramat cukup untukku. 
Engkau masih menunjukkanku mereka-mereka yang rela memberikan waktu-waktunya untuku diwaktu yang sempit ini. Mereka yang merelakan waktunya untuk menyiapkan banyak hal untuk hari itu. Dan mereka yang tersisa diantara banyaknya nama yang ada. 

Kalian yang aku syukuri, 
terimalah rasa sayangku teramat tulus ini untuk semua yang telah kalian usahakan dihari ini maupun dihari esok dan esoknya lagi. Sebuah bentuk rasa syukur untuk kehadiranku dibagian hidup kalian. 
Dan rasa syukurku dipertemukan dengan kalian yang tersisa :) 
Aku berhutang bahagia yang teramat banyak pada kalian. 

Oh. Separti ini rasanya pulang diwaktu yang tepat. 
Sudah teramat lama rasanya aku melewatkannya. 

Walau... ada yang kurang. 
Kemana Amal ? 
terlalu sibukkah ia dengan hidupnya yang baru ? 
Kemana Fauzan ?
melupakan tanggal bahagia kita yang hanya berbeda 6 hari ? 
Tak apa, mungkin itulah adanya, mungkin tak seburuk fikiran. Berbaik sangkalah. 

Namun tetap ku syukuiri 24 jam terbaik pada tahun ini :)

Selamat menjalani hidup baru Indah :)
Setengah abad ! Harus semakin baik dan baik dan baik lagi 
semoga doa yang pernah ada segera didengat Allah 
Semoga akan terus bahagia disetiap langkah. 

Langkah kedepan akan terasa lebih berat. Aku tahu, teramat berat aku lewati. 
Tanpa mata, telinga, kaki dan tangan yang sama lagi. 
Harus kuterima, karna memang bukan miliku selama ini, hanya kupinjam dan harus segera ku kembalikan kepada yang akan benar-benar memilikimu. 

Maka, 
Kuatlah !











Bait-bait yang terlewatkan (2)

Bait kelima pun terisi penuh. 
Sepenuh rasa yang tak sempat tertulis dengan baik.
Setelah begantinya bait keempat, rasa rindu memuncak keubun-ubun.
Maka dipertengahan bait kelima aku putuskan untuk bertemu. 
Namun tak banyak yang kudapatkan. Seperti biasa, pulang dengan dadak yang sesak dengan banyak nya cerita yang teroreh sepanjang hari. 
1 hari tak lebih dari 24 jam, niat bertemu berakhir dengan rasa ikhlas dan sabar yang masih lagi-lagi harus teruji. 
Dan dibait kelima, sebuah sistem baru ditemukan. Bertemu manusia dari antah berantah ternyata tak selamanya buruk. 

Bait pertengahan mulai masuk perlahan. 
Terkejutkan dengan hal yang tak pernah disangka. "The best person i ever have". Kalimat yang tak pernah terfikirkan akan masuk ketelinga ini. 
Baiklah, sebuah signal terang datang. Dan sepertinya harus benar-benar disadari dengan baik. 
Taukah jika hari itu buruk untuku. Salah satu terbutuk sepanjang sejarah. 
Bagaimana rasa kecewa bercampur untuk hal yang tak bisa dijelaskan dengan kalimat. 
Bukankah aku pernah berkata, mohon untuk mengindahkan apa yang aku sampaikan. Kalimatku bukan hanya pemanis. Jika untukmu kata tidak berarti tidak, maka mengapa kata tidak untukku tak kau indahkan pula. 
Jadi itu yang menurutmu yang terbaik ? disaat orang disekeliling tanpa ku minta menceritakan apa yang sebenarnya tak perlu aku tahu ? mengapa yang engaku definisikan berbeda dengan apa yang mereka definisikan ? Dan lagi-lagi kondisi kita tidak dalam keadaan baik-baik saja. 

Tapi setidaknya dibait keenam aku bertemu dengan banyak hal. Cara bertemu manusia asing yang tak pernah ku sangka. di kedai fastfood berwarna kuning, menghabiskan sebagian malam dengan bercerita. Dia yang ternyata telah pernah mencoba, namun gagal dengan cara yang teramat buruk. Turut bersedih untuk itu. Tapi maaf, bukan maksud untuk tidak menerima keadaanmu, namun cara kita berjalan dan menjalani hidup tak sama. Apakah kita masih berteman ?

Bait ketujuh semakin ramai hiruk pikuk cerita orang asing dan banyak hal asing yak tak pernah ku duga sebelumnya. Pertemanan yang semakin teman ? berbedaan antara caramu berterima kasih pada tuhanmu dan caraku berterima kasih pada Allah ku ? 
Pertemuan dengan orang orang asing kedua-ketiga-dan keempat. 
Pertemanan baik dengan salah satu orang asing hingga kini, dan menjadi lebih dari teman untuk temanku. Menarik bukan ? 

Bait kedelapan mulai datang ! Bait yang tak sabar ku sambut. 
untuk kunjungannya di akhir bulan, kunjunganku ke tempat impian, dan hadirnya si "putih" dalam hidup. 
Selamat untuk keputusanmu akan memilihnya. 
Maaf jika aku bukan orang yang tepat untuk bisa kau ceritakan. Karna aku terlalu muak untuk hal yang kau anggap biasa. 
Definisi baik dan buruk ? perkara apakah menutup aurat atau tidak ? hanya itu ? 
walau bungkus sudah terbuka, asal kini tertutupi kain di kepala, maka semua akan baik-baik saja ? 
Maka harusnya segel bukan harga yang harus dibayar mahal, bukan ? 
Tak apa, kau sudah memilih bukan ? aku akan selalu ada dipihak dimana bahagia akan selalu disampingmu. Maka berbahagialah. 
Namun maaf untuk pertengkaran hebat kita di lantai atas. Aku rasa ini yang pertama dan terakhir. 
Untukmu yang tak pernah aku lihat menitihkan air mata. Maat untuk hari itu. Terkutuklah aku jika hal itu datang kembali. 

ini masih tentang baik delapan yang teralalu padat, sepadat Jalanan jakarta pada hari kerja. 
Dimana Tuhan masih memeluk mimpi-mimpi hambanya. 
Terima kasih Tuhan, untuk banyak berkat yang kau berikan padaku. 
Tempat impian yang akhirnya aku singgahi. Walau datang tidak dengan dia atau dia. 
Namun tetap semenarik apa yang aku bayangkan. Pergi bersama mereka yang selalu memberi keceriaan disetiap detik yang berjalan. Maka, untuk gugusan pulai komodo yang mempesona... 
kutitipkan cerita dan rindu pada mereka yang menginginkannya pula, walau belum saat itu untuk mengunjungimu. Tapi percayalah, mereka mengagumimu dari jauh. 

Duapuluh satu hari pada bait kesembilan. 
Disinilah aku menulismu.
Bersama orang asing yang akhirnya menjadi teman duduk berhadapan untuk menyelesaikan apa yang seharusnya kami selesaikan. 
Aku dengan cerita bait bab ini, dia dengan tujuan hidup barunya. 
Baik ke 9, orang asing datang dari jauh. menarik untuk berkabar, tapi waktu belum mempertemukan. 
Yang akan sidang untuk hidup tahap dua nya, selamat berjuang ! doa terbaik untuk setiap usaha baik. 

maka, tunggulah saja bait-bait selanjutnya, tersisa empat. 
satu diantaranya menjadi yang kutunggu. Semoga baik. 














Mengerti kata "cukup" dari sebuah pulau

Sabtu-Minggu kemarin ada yang berbeda,
tak ku habiskan untuk berjalan-jalan di deretan keramaian ibu kota.
Aku dan kelima lainnya memutuskan untuk bertamasya keliling pulau.
Tidung namanya.

Tiga jam perjalanan dengan kapan tradisional ala kadarnya.Tapi justru pembelajaran pertama dimulai.
Di kapan kecil berlantai dua ini, semua orang duduk di lantai dan kursi yang sama.
Tak peduli bagaimana senin - jumatmu, tapi yang pasti disini, tak ada yang peduli apa pangkatmu

Beberapa jam selanjutnya tiba di Pulau yang tak terlalu kecil, dan tak terlalu besar rupanya.
Berkeliling dengan sepeda berkeranjang depan.
Awalanya aku kira sepeda hanya berlaku untuk para pendatang, namun ternyata sepeda menjadi salah satu moda transportasi disini.
Ku kira, jalana kecil berukuran tak lebih dari 2 meter hanya ada pada jalan menuju pantai, tapi ternyata aku salah. Semua jalanan di pulau ini memang berukuran hampir sama. Hanya cukup untuk satu bentor (becak motor) dan satu sepeda, atau motor maksimal.
Yah, kalian benar... tak ada mobil disini, angkot, apalagi bus.

Pulau kecil dengan rasa cukup yang teramat besar.
Cukup dengan berjalan kaki
Cukup dengan sepeda-sepeda berlalu lalang
Cukup dengan motor jika kamu ingin pergi dengan segera
atau Cukup dengan bentor jika perlu membawa barang atau pergi bersama orang tua.
Semua serba cukup, tak meminta untuk lebih.
Mereka merasa cukup dengan segala yang ada di tempatnya.

Lalu, sejenak aku berfikir,
letaknya tak jauh dari Ibu kota hanya 3 jam dengan kapal tradisional atau 1,5 jam dengan kapal cepat
tapi cara hidup mereka yang teramat berbeda.
Tak anda ambisi untuk membuat rumah dengan puluahan miliyar, tak perlu bermimpi mempunyai kolam renang di belakang rumah, tak perlu berusah hati untuk mrmikirkan cicilan mobil, toh.. semua ini tak diperlukan di sini.

Bekerja yang baik selayaknya manusia harus bekerja
Berdoa yang baik sebalayaknya manusia diciptakan
Bersyukur dengan baik selayaknya manusia diwajibkan

Maka, terima kasih Tidung.
Tak hanya lautmu yang bening, cara hidupmu mun mencerahkan hati yang gunda gulana karna obsesi materi.



 Tidung 20-21 Mei 2017

Bait-bait yang terlewatkan

Kemudian datang lagi.
Dengan telah melewati banyak hari
Banyak bulan
Banyak bait yang tak sempat ku tuangkan.
Mari merangkai kembali
dengan usaha untuk jujur pada setiap katanya.

Setelah rangkaian minggu-minggu berat, setelah terbiasa dengan ritme yang ku atur kembali, dan setelah melewati lembaran-lembaran kertas yang berakhir di meja juri.
Sampailah di mana keputusan harus diambil, pulang atau tetap di sini (yang sekarang menjadi di sana). 
Sempat terbersit akan dikunjungi oleh orang-orang tersayang, persiapan sudah menjadi siap. Hingga akhirnya berita itu datang, dimana rencana hanya menjadi wacana, dan tak pernah menjadi nyata. 
Maka, setelah pertimbangan yang terlalu berat untuk ku putuskan sendiri, maka aku bergerak  pulang dengan sendiri, dan sendirinya. Ditemani dengan tas ransel penuh sesak berisi barang rongsok yang ku paksakan masuk demi untuk berjaga-jaga menjadi obat jika tiba-tiba rindu akan kota itu datang. 

Maka di hari ke dua puluh dua di bulan ke delapan di tahun ke empat aku di negri itu, aku melangkah pulang. Pulang ke tempat yang mungkin seharusnya aku kembali setelah perjalanan panjang ini. 

Kepulangan menjadi hal yang aku rindukan. Untuk pertama kalinya melihat kembali kota itu. Kota dimana aku menghabiskan masa SMP dan SMA ku. Pulang menjadi hal yang terberat, namun melegakan. 
Dan akhirnya aku datang untuk pertama kalinya ke kedai kopi bernama pulang. Hasil karya dari manusia yang berprinsip bahwa semua harus pulang, termasuk dia, aku, dan orang-orang. Tapi sayang sungguh disayang, sesaat ketika tiba disana, aku tak merasakan aku pulang. Mungkin aku yang canggung melihat semua tak lagi sama ketika aku pulang. Terlalu banyak improvisasi sana sini hingga aku tak mengenali tempat ini, dan mereka yang ada dibaliknya. Yah aku tahu, sepertinya ini hanya rasa canggung sesaat. Atau mereka yang tak terbiasa melihat aku kini.

Kepulangan akhirnya mengantarkanku kembali ke tempat itu lagi, kampus yang nun jauh di sana. Dan untuk kedua kalinya dalam hidup aku menginjakan kaki di sana. Kali ini untuk melihat dia yang akhirnya berbahagia dengan toga wisuda. Ya, benar aku hanya melihatnya bukan menemuinya, karena itu mungkin yang terbaik, agar tak ada pihak-pihak yang harus merasa senang atau bersedih untuk itu. Maka cukup ku ucapkan melalu tanda yang kutinggalkan disana, dan doa yang sudah terbang ke atas sejak pagi datang. 

Setelah hari-hari pertama kedua, ketiga, keempat, aku kemudian memutuskan untuk menyusun hidup kembali. Mencoba peruntungan hidup di ibu kota. Dan ternyata ibu kota masih memeluk erat anak bungsunya. Aku mendapatkan rumah baru di satu bulan selanjutnya. Tempat dimana 9 jam perhari, 5 hari dalam seminggu aku berlabuh. Di jalan yang tersohor disetiap telinga penduduknya, M.H. Thamrin. kembali ke "rumah" lama, tempat aku pernah menimba ilmu mengenal Prancis. 

Bulan kesebelas di tahun lalu pun akhirnya datang lagi. 
Yang berbeda adalah, pada bulan ini aku tak meninggalkan apa-apa di blog ini, bahkan untuk mengucapkan : selamat menempuh umur baru. Biarlah semua aku simpan di kepala. tapi ternyata, ingatanku semakin melemah, takut jika sampai pada saatnya aku tak lagi bisa mengingat, maka kuputuskan menulis apa yang perlu diingat. Maka pada bait ini akan aku ceritakan sedikit : Pada hari ke tiga belas di bulan ini, ternyata aku tidak di negeriku sendiri. Angin tugas membawa ku untuk ke negeri sebrang, yang katanya metropolitan dan maju bukan main. Terbang bersama sahabat baik sekaligus tetangga baik beserta keluarga. Melewati malam 13 dengan berjalan di sepanjang pinggir sungai, tanpa perayaan, cukup doa dari hati masing-masing. Maka begitulah tanggal 13 itu berlalu. Tak banyak yang istimewa, jauh lebih sendiri dari pada di perantauan. Tapi tak terlalu pahit untuk dikatakan pahit.

Maka, mari kita masuk ke bait selanjutnya, bulan terakhir, bulan penentu. 

(tapi mari kita lanjutkan hari esok.. karna aku harus sudah meninggalkan tempat ini..) 

Maka tahun terberat dalam hidup pun akan segera berakhir, Mengakumulasikan apa saja yang pernah dilewati. Tahun terpanjang dalam hidup, tahun jungkir balik, dan tahun mengikhlaskan.
Tapi siapa disangka, di akhir tahun justru kuntum bunga itu mekar kembali. Sapaan singkat mengawalinya. Obrolan ringan makan siang dan jalan menuju rumah, Namun ternyata itu hanya cukup menjadi pemanis akhir tahun saja. Karena pada bulan pertama di tahun baru, semua menjadi baru. Termasuk semua yang ala kadarnya ini, namun cukup manis untuk membuat tersenyum. Maka terima kasih sudah sempat singgah walau sebentar.

Selamat tahun baru !
Semoga dua ribu tujuh belas semakin tahu arah tujuan di hidup yang baru.
Malam pergantian tahun berlalu di kota sungai, malam sebelumnya terlalu bising untuk meributkan hal-hal tentang ego. Maka di awal ini, ku putuskan untuk membuatnya menjadi baik-baik saja. Datang ke kedai kopi itu kembali, bercampur bersama mereka yang setengahnya tak benar-benar aku kenal. Menghabiskan beberapa menit pertama hanya dengan duduk di kursi bertemankan ponsel dan kabel pengisi batrainya, terlihat sibuk walau itu hanya upaya menyibukan diri. Dan puluhan menit selanjutkan ku habiskan dengan menengadahkan kepala pada langit yang betaburan cahaya api warna-warni. Bersyukur lokasinya yang tak jauh dari hotel yang hingar bingar, maka aku ikut merasakan kemeriahan yang ada di atas sana. kilatan cahaya yang lama-lama menghilang di langit malam menyisakan asap. menguap dan pergi. Seperti percakapan kami yang ikut menguap pergi terlalu jauh, kemudian menghilang sama sekali. Maka ini kembang api pertamaku setelah pulang, dan pertama bersama mereka dan dia.

Maka bulan kedua yang katanya bulan penuh kasing sayang, ku lewati begitu saja tanpa hal-hal yang terlalu penting untuk diingat. Hanya sedikit catatan kecil, menerima sapaan dari yang asing "Hy" ujarnya kali pertama.

Dreams come true. Ini bait yang paling tak sabar ku ceritakan. Sekian lama mengagumi mereka lewat musik dan lirik yang kerap kali tertinggal di kepala, akhirnya bisa merasakan langsung gegap gempitanya ruangan itu disihir oleh lantunan mereka. Coldplay di akhir bulan ketiga. Pergi ke negeri dengan patung singa putih bersama dia yang selalu membahagiakan, dan selalu meninggalkan rasa kesal setelahnya. tapi itulah dia, pahit dan manis di gelas yang sama, panas dan dingin bercampur, affogato.

Maka perbatasan bait ke tiga dan ke empat di tahun ini menyenangkan, dan mengesalkan pastinya.
Tempat itu bukan kali pertamanya aku singgah. Namun, menjadi tour guide untuknya sudah kubayangkan sejak sebelum benar-benar pulang ke negeri. Menunjukan tempat yang pernah aku kunjungi sendirian di malam terakhir di negeri itu tahun lalu. Menceritakan beberapa hal yang belum sempat ku kabarkan. Aku merasa menjadi pilot untuk perjalana ini, tapi tetap merasa punya nahkoda yang dapat ku andalkan. Dan ibu kota terasa berbeda di bulan ini. Untuk pertama kalinya ada yang menungguku pulang, sekaligus menjemput. Maka aku berterima kasih untuk hal-hal baik, dan pada yang buruk namun tetap terasa baik.

Maka inilah bait-bait yang terlewatkan dan tak sempat aku sampaikan. Ku ceritakan kembali pada singkatnya kata dan samarnya arti. Hati-hati untuk mengartikan banyak ketidak pastian. Maka lebih baik bertanya dari pada sesat di jalan.

Terima kasih untuk manusia-manusia baik yang hilir mudik dibanyaknya waktu bersama.
Semoga pertemuan, perjumpaan, percakapan, dan semua yang pernah ada dapat berkesan walau tak begitu berkilauan.

Selamat pagi baik ke lima ! bersahabatlah














Perempuan yang beruntung, dan lelaki yang malang

Apa definisi beruntung untukmu ?
yah.. banyak memang.
tapi setidaknya satu dari ku, kamu menjadi pilihan untuk orang yang nyaris sempurnya.

Lalu, apa definisi sempurnya ?
Ketika kamu bisa melihat gelapnya menjadi terang, dan terang nya menjadi cahaya mu.

Dan pengertian dari perempuan yang beruntung ?
Perempuan yang terpilih, dari ia yang diam-diam sejak lama ada di radarku.

Dia, mungkin menjadi salah satu lelaki termalang tahun ini.
malang, karna ia bertanya tentang rasa pada orang yang salah.
Salah karna pada akhirnya, ia harus tau bagaimana rasanya menjadi pejuang yang kalah.

Single ?

"Punya banyak temen, punya banyak temen cowok, kok masih sendiri ?"
Kalimat itu bukanlah kalimat pertama yang aku dengar, dan aku yakin tidak akan berhenti pada hari ini. Kalimat lampau. Dan aku pun bosan menjawabnya.

Apa menjadi sebuah keharusan, wanita seumuranku harus sudah memiliki pacar ? gandengan ? gebetan ? tunangan ? atau apalah itu..
Bagaimana jika ini memang pilihanku. Apa salah memilih untuk sendiri dan tidak menceburkan diri pada masalahan yang akan berputar tak ada hentinya ?

Well..
Mungkin banyak perempuan cantik diluar sana yang mengingkinkan memiliki pacar di masa mudanya. Untuk membahagiakan hidup, ujarnya. Tapi jika aku memilih untuk menjadi bahagia bukan karna seseorang, itu bukan menjadi sebuah kesalahan, bukan ?

Terkesan seperti bermimipi memang, hanya diam saja tapi mengharapkan akan datang imam hidupku yang dikirim Allah. Tapi kemudian definisi "diam" harus kau perjelas lagi. Biarkan doa-doa ku pada-Nya yang menjadi saksinya. Karna pacaran bukan menjadi satu-satunya jalan untuk bertemu imam-mi kan ?

Tidak. aku tidak benci jatuh cinta. Aku tidak kapok patah hati. Tapi jika ada pilihan untuk tidak merasakan patah hati lagi, itu pilihan yg baik bukan. Sudah lah, sudah cukup rasanya mengulang fase yang sama. kenal-dekat-nyaman-menyoba serius-ternyata gagal-berakhir-berpisah-luka-sakit dan berulang dari awal lagi. Usaha "mengenal" akan lebih baik ku pergunakan untuk mengenal-Nya. Karna aku yakin, Allah selalu akan memberikan jalan yang baik untuk kita.

Tidak. Jangan kau katakan ini terlalu manafik. Ya, tingkat pengetahuan agamaku memang belum sempurna, aku pun sadar blm melakukan banyak kewajiban, apalagi sunah. Tapi berusaha memenuhi satu-persatu tak apa kan ? Aku tak berusaha untuk menjadi yang paling suci, tapi berusaha menjauhkan diri dari apa yang seharusnya bisa kita jauhi bukan menjadi hal yang salah, bukan ?

Maka... aku harap mereka mengerti.
mengenal, dekat, akrab, tidak harus menjadi aku pacarmu dan kamu pacarku kan ?
mengenal, dekat, akrab, dan kamu menjadi imamku dan aku menjadi ma'mum mu, bukankah lebih baik ?
pilihan kedua memang impian banyak orang, tapi tak ada salahnya jika aku berusaha mengambil jalan yang ke dua.
Maka, kenapa manjadi salah ketika memilih sendiri ?

Pada akhirnya biarkan air mengalir hingga hulu nya..
Dan kau yang diam-diam aku amati, semoga Allah mendengar doaku.

Selamat Menempuh Hidup Baru

Teruntuk untukmu,
Selamat menempuh hidup baru !

Ya.. hidupmu yang bukan lagi dengan status mahasiswa.
Akhirnyaaa waktu yang ditunggu-tunggu datang juga ! Sidang akhir. Dan kamu melewatinya dengan baik. Selamat. Sebentar lagi resmi menggunakan gelar sarjana di belakang namamu. Semoga ilmu mu berkah. Dan sekali lagi selamat !

Maaf aku tak membalas pesan terakhirmu pagi itu, pagi untuk mu dengan pagi buta untukku. Bukan karna apa, tapi aku tahu, balasan pesan dariku tak lagi penting untukmu. Aku tahu kamu tak membutuhkan itu lagi. Bahkan mungkin kamu tak menginginkan untuk bertegur sapa lagi dengan ku. Bukan kah pesat terakhir itu hanya bagian dari formalitas untuk memenuhi janjimu, jika menjelang sidang kamu akan memberitahu ku ?
Yah.. formalitas.
Memberitahu ku hanya beberapa jam sebelum sidang itu dimulai. Untuk apa ?
agar mempersingkat pembicaraan kita ?
...

Tak perlu.

Untuk mu yang pernah aku anggap teman baik ku.
Untuk mu yang pernah aku kira rekan kerja yang baik.
Apa sebutan itu masih layak untukmu ?

Pesan terakhir ku untukmu ku kirim pada tanggal 1, bulan ini.
Lalu tak ada lagi balasan dari mu.
Awalnya aku kira, sibuk mu tak tertahankan
Tapi kamu teralalu aktif di sosial media.
Sampai pada suatu ketika aku membutuhkan informasi lama yang harus aku cari di room chat kita.
Hari itu tanggal 10, tepat sepuluh hari sejak pesan terakhir ku kirimkan.
Lalu yang ku temukan, 3 pesan terakhir itu masih saja belum kau buka. Belum ada tanda "baca" pada ketiganya.
Lalu..
Kemudian aku sadar, mungkin memang kamu tak perlu itu. Dan tak menginginkannya.

Alasan apa lagi yang akan kamu gunakan ? Dalam sepuluh hari masih saja kamu tak menyentuh sosial media itu ? mimpi. Alasanmu terlalu klasik :)

Lalu tepat pagi ini, ketika pesan dari mu masuk. Mengabarkan hari ini akan menjadi hari penentuan akhir perjuanganmu.
Dan ketiga pesan yang sudah lama tak memberikan tanda "baca" itu akhirnya terbuka juga.

Jadi ?
Kamu sengaja tak membukanya berhari-hari ?
atau sengaja kau hilangkan percakapan kita dari room chat itu ?
Terima kasih :) Kamu memang teman yang baik :) Baik untuk ditinggalkan mungkin.

Ya, mungkin ini ke kanak-kanakan.
Tidak dibalas chatnya... kemudian marah.
Tidak, hal ini tak sesederhana yang kamu kira.

Memang, hak semua orang untuk membalas pesan mana yang akan ia tanggapi. Hak semua orang untuk memperlakukan sosial medianya. Tapi, aku akan lebih menghargaimu ketika kamu hanya membacanya, walau tak kamu balas kembali. Atau aku akan lebih senang jika kamu katakan saja bahwa tak ada lagi yang perlu di sampaikan. Lalu kita bisa mengakhiri percakapan dengan baik.
Bukan kah kamu selalu mengakhiri percakapan orang-orang yang tak kau inginkan dengan cara baik-baik ?
Lalu kenapa untuk ku kamu berikan hal yang sangat mengagetkan ?

Untuk mu, orang yang pernah ku percayai banyak hal,
ini kekecewaanku yang terdalam.
omong kosong dengan katamu yang akan selalu jadi teman ku ?
Rasanya.. pertemanan yang baik tidak di dasari atas hal ini.

Untuk mu,
tidak aku tidak akan marah lagi. Untuk apa ?

Maaf jika aku tak langsung memberikan ucapan selamat langsung untukmu. Sudah tahu kan alasannya ? Aku menghargai keputusanmu untuk tidak melakukan percakapan denganku. Jadi, inilah bentuk dari pengabulan harapanmu.

Awalnya, ku kirimkan seikat bunga putih dan biru ini untuk merayakan hari bahagiamu. Bahagiamu.
Sudah kutitipkan pada jasa pengantar barang itu. Tapi beliau berkata bahwa kau tak lagi di rumah, dan tak ada satupun orang di rumahmu. Kemudian, ia titipkan pada pagar yang berdiri kokoh di depan rumahmu.
Aku berdoa sepanjang hari agar hujan tak lagi turun, sehingga membasahinya.
Aku pun sempat berdoa, agar tak ada orang iseng yang mengangkutnya. Atau.. semoga bapak pengatra jasa itu tidak salah alamat. Tapi doa ku tak kunjung terjawab.
Ketika aku menulis ini, malam sudah datang di tempatku, hampir saja buka puasa. Lalu, apa kabar dengan dia yang tergantung di pagar ? 
Apakah kamu sudah terima itu ?
Atau justru sampai kau membaca ini suatu saat nanti, masih kau belum terima ? 

Jika kamu sudah menerimanya, terima lah dengan baik-baik.
Jika belum, cukuplah kamu tahu bahwa pernah ada niat baik dari ku. Jika akhirnya kamu tak menemukannya, mungkin memang bukan saatnya. Waktu saja tak mengizinkannya :) Setidaknya kamu bisa melihat bentuknya dari foto ini.

Sekali lagi,
kamu yang pernah aku anggap teman baik,
Selamat menempuh hidup baru !
Semoga hidupmu akan lebih bahagia.



Salam,
orang yang pernah kau sebut sahabat

Empat kali empat, enam belas

Satu kali empat, empat
Dua kali emapat, delapan
Tiga kali empat, dua belas
Empat kali empat, enam belas !

Tidak, kita tidak sedang akan belajar berhitung. Hanya saja aku sedang menimang-nimang angka empat.

Empat kali merasakan tahun baru di tanah eropa
Empat kali merasakan ulang tahun jauh dari keluarga
Empat kali merasakan dinginnya negeri ini
Empat kali melewati tanggal 20 Mei !

Entah harus senang atau sedih dengan angka yang sudah aku peroleh saat ini.
Besyukur, pasti. 4 tahun yang luar biasa, bahkan jauh dari tanah air, tak perlu kau ragukan lagi.

Ada banyak tempat yang dulu ak kira hanya akan berakhir menjadi mimpi belaka.
Ada banyak kota yang aku kira itu hanya ada di peta
Dan ada banya tokoh penting yang aku idolakan, yang tadinya aku kira hanya hidup dalam layar kaca.
Kini, sebagian mimpi ini benar-benar aku temui. Jalur-jalur yang ada di peta itu, benar-benar aku singgahi. Dan mereka yang ada dalam layar kaca, benar-benar aku salami.

Terima Kasih Ya Allah, atas berkat dan Rahmatmu selama ini.
Maaf jika aku masih belum menjadi pribadi yang baik seutuhnya.
Untuk ribuan hari yang sudah aku lewati di Prancis.

Aku masih tak tahu, apakan akan ada 20 Mei selanjutnya, atau ini 20 Mei terakhir untuk chapter ini.
Kalaupun akan berakhir, aku harap akan ada 20 Mei versi berikutnya, yang akan aku kenang.

20 Mei.
Hari pertama dimana kaki ini banar-benar menyentuhnya
Hari pertama dimana mimpi-mimpiku hidup kembali
Hari pertama dimana hidupku, ku mulai kembali

Sekali lagi, selamat melewati 20 Mei yang ke empat kalinya !




Printemps ! musim putus atau musim jadian ?

BIENVENUE PRINTEMPS ! 
Selamat datang musim semi !


Musim semi identik dengan musim yang paling di tunggu-tunggu banyak orang.  Mahasiswa di negara Jepang biasanya akan sangat menantikan musim ini, karna di musim semi lah awal ajaran baru sekolah dan kuliah di mulai. Di Prancis sendiri musim semi menjadi waktu yang di tunggu-tunggu. Selain bunga-bungan dan pepohonan yang mulai hidup kembali, itu berarti jalanan udah mulai ceria kembari ! matahari bersinar sepanjang hari, masih tetap ada awan yg meneduhkan dan angin yg menyegarkan. 
Lalu, bagi anak muda kebanyakan, printemps akan menjadi musi putus atau musim jadian ? 

Printemps ! waktu yang pas untuk berbunga-bunga.Termasuk untuk urusan cinta. Banyak diantara mereka yang memutuskan untuk jadian di bulan-bulan ini. Kenapa ? Karna selain bulan yg indah.. bulan-bulan ini juga bulan yg menyambut libur panjang. Liburan jomblo ? hem.. kayaknya bukan pilihan yg baik. 

Lantas.. entah kenapa, entah ini ada hubungannya sama printemps yang biasa di kenal dengan "sesuatu yg baru" atau tidak, yg pasti banyak lingkungan sekitarku yang akhirnya memanfaatkan waktu yang cantik ini dengan menjadikan sesuatu yg masih abu-abu menjadi lebih jelas. Contoh simplenya.. jadian. Contoh ruwetnya.. naik kepelaminan. 

Karna faktanya, beberapa bulan terakhir ada banyak banget temen di sekitar yang posting foto jadian, foto tunangan, sampai foto undangan dan resepsi pernikahan ! berbahagialah mereka. 
Salah satu contoh yang manarik untuk di simak adalah kisah cinta "mas botak". Yah.. akhirnyaa setelah PDKT hampir 1 tahun, mas botak jadian juga sama si honey. Akhirnya :" 
Mereka ketemu disalah satu acara PPI di kota Eropa timur, hampir satu tahun pdkt dengan status LDR (pdkt aja udah ldr :") akhirnyaaaa mereka resmi juga !! huyeeeee... 
Tau cerita mereka itu berasa lagi nonton FTV yg selalu happy ending walaupun perjalanannya lika liku banget. 

Next.. selain musim bercinta, printemps yg juga menjadi musim pembaruan mengindikasikan sesuatu yang baru. Baru tak melulu bagus kan ? cerita baru yg menyedihkan juga hadir mengelilingi printemps ! salah satunya dengan kata "berpisah". 

Beberapa temen dan temen deket belakangan ini bercerita tentang kisahnya yang kandas di tengah jalan setelah berkelana selana 1, 2, 3, 4, bahkan ada yang hampit 5 tahun ! 
Salah satu dianatara mereka ada mang ujang. Mang ujang salah satu temen deket yg suka cerita kalau ada kabar-kabar baru di kota. Dan kabar terbaru justru datang dari dirinya sendiri. Perjalanan cintanya kandas juga beberapa minggu yang lalu. lebih dari 365 hari mereka lalui bersama ternyata harus berakhir menjadi sebuah sejarah. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu..

Selanjutnya.. cerita mas petani. Yah anggap saja nama nya seperti itu, karna ia banar-benar suka bertani. Mas tani akhirnya juga mengakhiri kisah cintanya. Ups, maksudnya pacar mas tani yang memilih untuk mengakhirinya. Hampir 365 hari kali 5 mereka habiskan bersama, lagi-lagi masih cerita 'hubungan jarak jauhhhhhhh'. Sempet gak nyangka sih liat beberapa postingan mas tani dengan pacar baru dan, mantan mas tani yang sekarang udah punya pacar baru juga. Ya... kalau yg ini jadinya kompilasi ya. Abis selesai, merajut kembali :) 
Sedikit banyak, kebetulan tau cerita perjuangan mas tani dan si mbak mantan. Mbak mantan kuat dan setia banget, walau kini mbak mantan akhirnya menyerah juga dengan keadaan. Pejuang jarak jauh akhirnya berkurang satu (lagi).

Selain mas tani yang sempat bersedih hati di printemps, ada lagi cerita berpisah dari salah satu teman berambut tidak hitam. Ini cerita tentang mas bule dan mbak bule. Mas bule sepertinya pernah ada dalam ceritaku beberapa waktu lalu. Ya mungkin tidak di blog ini, mungkin di blog yg lama. Tapi yang pasti.. Mas bule juga sempat mengisi hari-hariku (duh jadi malu :$). 

Gak sengaja malem ini ngeliat postingan mbak bule dengan sesosok yang tidak aku kenal. Hemm sepertinya mencurigakan. Dan ternyata curigaku beralasan. Mbak bule tidak lagi menjalin hubungan dengan mas bule. Oh ya? sejak kapan? kok bisa ? hemmm.. banyak sekali tanda tanya yang kemudian tumbuh, dan tanda tanya itulah yang menggerakan rasa ingin tahu ini menjadi sebuah tindakan mencari fakta lebih dalam.. yaahh kalian tahu lah pasti maksudnya :D 
Dan ternyata benar sekali ! perjalanan mas dan mbak bule yang aku rasa sudah lebih dari 3 tahun harus berakhir juga. 

Aku ingat jelas bagaimana bahagia melihat mereka bahagia bersama di kelas :" bahagimana mereka saling membantu dan menyemangati saat ujian terberat kita. Ah... ikhlas rasanya jika melihat mereka berdua sebahagia dulu. 

Lalu ? 
Lalu... aku mengambil kesimpulan. 
Waktu tak akan menjadi sebuah garansi kamu akan berakhir dengan siapa. 
Mungkin saja dia yang sekarang amat berjasa untukmu di waktu ini. Bersamanya kamu belajar banyak, bersamanya kamu belajar berbagi banyak hal, dan bersamanya kamu tumbuh dewasa. Tapi itu tidak sama sekali menjadi sebuah garansi bahwa bersamanya pula kamu akan memetik hasil. Tak ada yang tahu, pada siapa akhirnya kamu menghabiskan waktu hidupmu. 

Setelah ini, kamu yang sedang berbahagia mungkin saja akan merasakan patah hati pada waktunya nanti. Jika iya, nikmatilah patah hati ini. Rasakan pelajaran yang teramat kuat di setiap rasa sakit yang kau hadapi. Jadikan patah hati sebagai tempamu menempa mental dan pembelajaran buat dermaga lain yang akan kau singahi. 

Dan utuk kamu yang sedang dalam masa kelam dan pahit. Tenang, anggap kamu sedang di masa "detox". Racun jahat di pikiran dan hidupmu sedang di buang. Semangatmu sedang di bangkitkan lagi. Akan ada printemps yang indah untuk kalian yang telah menyiapkan bibit tulip sejak lama. 

Dan untukumu yang tak ingin mengenal keduanya... 
maksudku, kamu yang ingin langsung melamar.. 
alamat ku di jalan kebun bunga, nomer.... 
oh maaf aku keceplosan :) hahaha.. 

Sekali lagi.. selamat menyambut musim semi ! menyambut hidup baru ! yeyey



Hah. Kau lagi ?!

Sebelum kenangan ini benar-benar pudar karna waktu, maka ku haruskan kisah ini untuk singgah dan tertulis rapi di sini. Agar kelak dapat ku baca kembali dan berterima kasih untuk pelajaran yang pernah kau berikan. 

"Berkah yang melimpah". Ingat kah kau dengan kata kunci itu ? yah, ceritanya pernah ku tuliskan beberapa waktu yang lalu. Mungkin tidak di halaman ini, tapi aku pastikan ceritanya masi tetap tersusun rapi. Beberapa hari lagi genap menjadi 2 tahun. 2 tahun awal cerita ini pernah ada. Memang belum genap 365 hari kali dua, dan di tambah 1 karna ada tahun kabisat. Namun, ketidak genapan ini justru menghantarkan kami pada sebuah cerita yang serupa. Serupa tapi tak sama. 

                          ***

Sakit perut yang bukan sebuah penyakit, sudah datang sejak pagi itu. Jika membandingkannya dengan 2 tahun yang lalu, lucu memang. Waktu itu, aku harus terburu-buru meninggalkan rumah karna waktu yang kita tentukan sebentar lagi tiba. Aku sedikit terlambat, di stasiun kreta yang kita janjikan. Tapi sekarang, rasanya energiku habis terkuras. Membayangkan seperti apa kau sekarang.

Beberapa hari sebelumnya, aku juga menempuh perjalanan yang sama. Sama jauh nya seperti yang dulu pernah kita tempuh. Tapi disela-sela perjalanan itu, ada kau yang menyelinap dalam pikiran. Ah, seperti cerita dalam sebuah kaset, cerita itu berputar sendiri. 

"Klekkkk" bunyi pintu aula itu ku buka. 
Ku lemparkan pandangan jauh kedepan, ku sapu dari setiap ujuang aula. Ternyata mataku benar-benar sudah rabun ! Tak bisa melihat dengan jelas mereka satu-satu. Tapi, postur tubuh mu yang berbeda membuat kau gampang dikenali. Ah kau lagi! di tempat yang sama.

Sebuah tos kecil mendarat mulus pagi itu. Sebuah percakapan singkat keluar begitu saja. Kalimat pembuka yang aku harap akan menjadi awal yang baik. Eh sebentar, senyumu tampak berbeda. Ada yang mengganjal di permukaan. Oh, kawat gigi itu, tak pernah aku lihat sebelumnya.

Dan masih sama seperti dua tahun sebelumnya. Aku yang tak punya modal banyak hanya bisa melihat kau bertanding dari kejauhan, layaknya melihat idola. Selalu ku sempatkan melihat mu di setiap pertandingan, walau mataku sudah rabun, tapi nomer punggung mu yang berubah itu masih tetap dapat ku lihat. Kau masih tetap sama. Menawan. Bahkan lebih dari yang ku bayangkan. 

Kau lagi ! 
Rasanya aku harus berterima kasih untukmu. Aku juga tak tahu pasti untuk apa, tapi yang pasti bisa bertemu denganmu lagi memang sebuah hal yang tak ku bayangkan sebelumnya. Pembicaraan yang menjadi candu.


Kau yang masih menawan. Dan kini sudah lamaran. 
Terima kasih untuk yang kesekian. 



Trocadero

Ku tulis ini dalam sebuat kereta tua yang membawa ku ke sesuatu tempat di ujung kota.
Entah aku tak bisa menemukan jenis tulisan ini. Sajak kah, artikel kah, atau hanya bulir kata kata yang keluar tak karuan. Yah, apapun itu, ini limpahan pergulatan hati dan batin yang sejak pagi bergemurug di dada. Puncak dari sakit perut yang tak ada penyebabnya.

Senja yang paling membuat bulu kudu ku berdiri. Bukan, bukan karna semburan cahaya orange nya yang menggunjang hati, tapi karna sore ini nyaliku sedang di uji.

Tepat 365 hari yang lalu, aku pun menempuh perjalanan yang sama. Sama tapi tak serupa.
Di jam yang sama, mungkin hanya beda menit, aku juga berada di kreta ini. Dengan hati yang paling bahagia mungkin. Dengan rasa kemenangan karna sukses membuat sekenario terbaik untuk tahun ini. Dengan rangkaian kejutan yang aku persiapkan jauh jauh hari, aku yakin sore itu akan terbayar tutas, lunas dan puas.

Tapi tidak dengan tahun ini.
Tidak dengan hari ini.

Sejak pagi menyambut, terkadang ego ini masih saja membujuku untuk tetap tinggal hingga malam. Tak beranjak dari rumah, apapun alasannya. Tidak juga perlu membuat rangkaian kejutan. Cukuplah dengan ucapan sederhana.

Tapi, hati juga masih saja membujuk untuk tetap pergi. Memberikan ucapan dengan cara baik-baik. Memperlakukan layaknya aku memperlakukan manusia manusia baik sebelumnya.

Takut.
Yah mungkin kata itu yg bisa aku pinjam untuk menggambarkan bagaimana benang benang berkeliaran di hati dan pikiran ini.

Takut jika hal ini  tak sepantasnya aku lakukan.
Takut jika ia tak mengindahkan maksud baikku.
Takut jika suaraku tak sampai kepadanya. Bukan karna ia terlelap, tapi karna ia tak mau mendengarnya.
Takut jika hal ini bukan yg di inginkannya.
Takut jika pada akhirnya aku tahu, ini lah pernyataan tak tertulis, bahwa persahabatan ini memang hanya tinggal kenangan.

Persahabatan ?
Yah. Biarkan aku menganggapnya begitu. Karna ini urusan aku.
Bagaimana dia menganggapku, itu urusannya. Biarkan dia yg memilih katanya.

Ah sudah lah, mengetik di layar kecil memang tak selalu baik, apalagi saat-saat seperti ini. Tanganku memproduksi keringat sedang banyak banyaknya. Lagi pula di stasiun depan aku turun.

Oh tuhan..
Rasanya aku tak ingin kereta ini sampai di tujuannya.


Paris, 11 Maret 2016 ; 17:46

Surat Untuk Anjani

Hai Anjani,

Untukmu gadis berkulit jauh lebih putih dari pada kulitku, dan gadis yang tak menyukai tim sepak bola kebanggaanku, tapi untungnya kita masih satu suara jika bertemu dalam piala dunia, si baju orange.
Ini surat pertama yang aku tulis untukmu, yah walaupun sudah pernah kau ku kirimkan sebuah sepeda melalui kertas berlipat dua itu, tapi ini adalah kali pertama aku menulis pesan sepanjang dan sebanyak ini. Aku tak tahu akan kah ini menjadi surat terakhirku pula atau tidak, rasanya iya, entahlah. Tapi berkatmu aku akhirnya menginjakan ke kantor bernuansa orange itu, tempat orang menitipkan cerita, benci dan  rindu pada seonggok kertas tak bersuara.

Anjani yang malang, 
Langsung saja aku pada pokok tujuanku menulis ini. Aku sebenarnya bisa saja menelfon mu, memencet nomormu pada layar ponselku dan langsung berbicara padamu seperti biasanya. Tapi rasa enggan masih saja mencuak dipikiran. Aku malas sekali jika harus mendengar suaramu yang tinggi dan terkadang memekakkan telinga. Terkadang kau pun tak henti-hentinya berkicau bak burung kelaparan. Mungkin dulu memang aku sangat menyukainnya, tapi kini aku rasa aku tak membutuhkannya lagi. Perhatikan, aku menulisnya dengan kata "mungkin", jadi sebenarnya aku juga tak tahu yang sebenarnya. 

Anjani, kau memang sungguh baik. Mungkin gadis yang terbaik yang aku temui. Wajahmu juga tak buruk-buruk amat, kau pun pintar dan pandai berbicara. Sering kali leluconmu membuat percakapan kita terasa hidup. Tapi Anjani, itu saja tak cukup, atau mungkin berlebih ? entah lah.  Yang pasti aku ingin sekali mengatakan maaf padamu. Entah ini patut atau tidak, tapi sebaiknya aku jelaskan  saja, biar nanti bapak pengantar surat itu yang mengantarnya. 

Ingatkah senja yang kita temui saat itu Anjani ? Yah senja yang kita pandangi bersama. Aku di bukit berbatu dipinggir pantai itu, dan kau dibukit yang lainnya. Iya aku tahu, kita memang tidak di tempat yang sama, tapi kala itu akhirnya kita bisa memandang langit yang sama, senja yang sama, awan yang sama, bahkan mungkin angin yang lewat di depanku juga angin yang datang mengibas rambutmu. Rasanya senang bukan kepalang, tak ku sangka kita bisa memandangi senjamu dan kamu melihat matahariku, dengan warna kemerah-merahan yang identik. Tak seperti biasanya kita menikmati mataharimu-bulanku, bintangku-suryamu. 

Apakah kau juga ingat malam bulan purnama itu ? Yah! kau yang duduk tepat dibelakangku. Kurasa kau melihatnya. Karna diam-diam aku mengintip dari kaca sepion. Kau menengadahkan kepaamu ke atas, rambutmu yang mencuat dari sela-sela helm, terbang diterpa angin yang mungkin sempat berjumpa dengan purnama. Itu hal terbaik yang aku temukan tahun ini. 

Anjani yang tegar, 
Belum sudah aku menguraikan kata maafku, tapi memang aku tak sanggup mengatakannya sekarang. Jadi biarkan aku mengatakan terimakasih padamu terlebih dauhulu. Kau ingat Anjani, saat tumpukan pekerjaan dan tugas itu mencekik leherku? Yah itu rasanya aku akan mati jika kau tak cepat-cepat datang. Manalah aku paham bagaimana merangkai kata ilmiah, jika pernah membacanya pun tidak. Aku tahu kau membantuku sebaik mungkin, aku juga tahu jika kau bahkan belum terpejam saat tanggal deadline itu datang. Yah, yah, aku yang malah sempat tertidur dan kau yang meneruskannya. Tapi sungguh Anjani, mataku tak kuat lagi, bukan karna aku enggan. Dan lagi-lagi kau menjadi penolongku. 

Anjani yang baik, 
Terima kasih karna hampir disetip pagi kau membangunkanku. Walau sebenanrnya aku masih ingin melanjutkan berselancar di dalam mimpi. Tapi suara telfonku yang nyaring mmebuat kupingku gatal. Ditambah lagi kau yang suka memekik agar aku cepat tersadar dari kantuk. Yah itu menyebalkan, tapi aku bersyukur mengenalmu. Tapi Anjani, sadar kah kau, jika kantukku itu juga karna mu. Yah, bagaimana tidak, aku baru bisa tidur setidaknya 1 jam setelah tengah malam, bahkan lewat sepertiga malam. Kalau saja aku sudah tidur sebelumnya, aku pasti bisa sekalian ibadah malam. Seringkali aku terkantuk-kantuk menunggumu tiba di rumah. 

Ah alangkah panjangnya surat ini jika harus aku tuliskan kata terimakasih untuk setiap waktumu. Maka aku persingkat saja, karna tanganku sudah mulai pegal-pegal. 
Tapi yang pasti, termakasih yang sebesar-besarnya karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan dia, dan kau memberikan waktu yang pas untuk kami saling mengenal. 

Anjani, 
Sekarang kau tak perlu lagi menahan kantuk hanya untuk membangunkaku di pagi hari, kau tak perlu lagi berusah payah menjadi guruku, dan sudah aku putuskan kau tak perlu lagi memasang kupingmu lebar-lebar untuk mendengar ceritaku. sebenarnya aku juga sudah lelah padamu. Siapa yang tak lelah jika hidupmu yang nyata terasa seperti hanya khayalan. Aku seperti hidup di dunia maya. Memang mengasyikan, suatu pengalaman yang menarik bisa berinteraksi bersama dengan orang yang nun jauh di sana. Hal ini jika tak pernah aku bayangkan, bahkan tak pernah aku tahu jika bisa berlangsung tidak hanya dalam hitungan minggu. 

Ah sudahlah Anjani, yang pasti sekarang aku ingin bebas. Yah, kau memang tak pernah mengurungku, tapi aku tak menemukan kata lain yang lebih elok, jadi kupinjam saja kata bebas itu. Pokoknya kini aku sudah jauh lebih bahagia. Jadi mohon jangan mengusik apa yang sedang aku susun ini. Kau mengerti kan kata bahagia ? Aku kini jauh lebih bahagia, Anjani. Manusia mana yang tak bahagia jika waktu tidurnya kembali normal. Kini aku bisa tidur setidaknya 8 jam perhari. Kini sebelum tengah malam aku sudah bisa tertidur pulas ditemani suaranya orang disebrang sana yang sama-sama tertidur. Elok bukan ? 

Kini aku pun tak lagi pergi sendiri. Tempat duduk disamping pengemudi kini sudah terisi sosok nyata nan cantik. Tak seperti dulu, kursi sebelahku kosong, yang ada hanya wajahmu yang terkurung dalam layar ponsel. Tak ada tangan yang membantuku merogoh uang receh dari dashboard. Walaupun itu menyenangkan, tapi kini jauh lebih menyenangkan. Aku juga sudah punya penasihat sendiri, yang bisa langsung memutuskan warna atau barang mana yang harus aku ambil saat membeli sesuatu. Aku tak perlu lagi susah-susah mengambil gambar dan mengirimkannya padamu, lalu harus menunggu kau membalas, lalu kita berdiskusi panjang... ah lama sekali prosesnya. Kini semua jauh lebih cepat Anjani. Oh ya satu lagi, perjalana panjang ke kampusku pun kini bukan masalah berat dan tak lagi membosankan. Sudah ada manusia nyata yang duduk disampingku, bercerita, bercanda, lalu tertidur di bahu. Perjalanan yang panas terasa jauh lebih sejuk. Semuanya tak lagi membuatku pusing karna perjalanan yang panjang. Ditambah bermain ponsel di dalam bus serasa bermain roller coaster, mual.  Oh astaga, aku hampir lupa. Tugasku pun kini jauh lebih ringan, bukan karna dia lebih pintar darimu, tapi karna dia duduk tepat di kursi sebelahku. 

Anjani, tanganku sudah benar-benar mati rasa, tak sanggup lagi aku menulis. Jadi izinkan aku mengakhiri ini dengan kata terima kasih, karna kau telah mempertemukan aku kembali dengan hidupku yang lebih baik. Ini semua juga berkatmu. Dan maaf jika aku tak lagi bisa menemani hari-hari mu, karna jujur aku sedang fokus pada hidupku yang bahagia ini, aku ingin benar-benar menikmatinya. Jadi maafkan aku jika ini terasa tak adil di dengar. Pesanku, jangan kau banyak terbuai masa lalu, kenangan yang sudah lewat atau kata-kataku dulu. Kau tahukan aku seorang lelaki, dan harusnya kau sudah paham dengan baik, bagaimana aku. Itu hanya lelucon belaka, hanya kalimat-kalimat yang menghibur agar aku tertawa dan kau bahagia. Jadi sudah, tak usah kau lihat-lihat lagi. 

Sekian saja surat dariku. 
Kau memang indah, Anjani. Tapi yang murni adanya akan selalu aku perjuangkan. 

Salam cinta dan kasih.
Teman hari-harimu, 
Teman baikmu,

-Tri Rahmadi-